Selamat Tahun Baru

Desember dan berselang kemudian Januari, Jumat dan sekejab selanjutnya Sabtu, pagi dan sedetik kemudian petang, itulah waktu! Ia kenal datang dan melupa untuk kembali, tidak hanya lupa tetapi juga tak kenal kembali. Terus mengingatkan kita, tentang apa yang memang harus diingat—tentang apa yang telah dilakukan: hari ini menjadi nyata, dan esok menyejarah. Dan akhirnya manusia menjadi merugi karena gagal berkawan denganmu waktu. Dan kebaikanlah yang lahir untuk mencegah kegagalan itu.

 

Building Personal Brand Equity

Hidup tidak serta merta untuk tujuan akhir finansial.  Kesungguhan membangun reputasi akan menarik keuntungan sebagai hasilnya.”  ~Antoni Ludfi Arifin

 

Warisan leluhur merupakan potensi yang harus dijaga kelestariannya.  Warisan leluhur seperti aset berbentuk fisik (tangible asset): sumber daya alam—memiliki potensi keterbatasan. Jika tidak dikelola secara arif, maka ia akan musnah.

Sebaliknya, warisan leluhur yang bersifat tak berwujud (intangible): kesenian, kebudayaan, maupun nilai-nilai luhur yang pernah “dilahirkan” oleh leluhur kita juga memiliki potensi serupa: musnah, jika tidak dicermati, dilestarikan, bahkan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di zaman yang sudah kompleks (sophisticated) ini.

Warisan budaya dalam bentuk peribahasa (proverbs) merupakan salah satu bentuk gaya bahasa berupa ungkapan atau kiasan dalam bentuk kelompok kata (frasa) atau kalimat ringkas dan padat yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.  Peribahasa ini banyak digunakan  dalam kehidupan keseharian orangtua kita di masa lalu.

Penyampaian sebuah “pesan” yang diungkapkan dengan indah dan santun.  Nasihat leluhur ini dapat dijadikan fasafah pedoman hidup.  Di zaman yang modern ini,  ia tak lekang oleh waktu dan tetap dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang multikompleks ini.

Ilmu terus berkembang, seiring berkembangnya teknologi dan pengetahuan manusia.  Di dalam keilmuan manajemen terkini, banyak teori-teori muncul. Baik yang ditarik dari sebuah penelitian maupun berdasarkan kejadian pengalaman-pengalaman “sukses”  yang berulang-ulang.

Sebagian besar kita, anak-anak muda Indonesia, telah lupa akan warisan budaya lokal, peribahasa, berupa local wisdom. Contohnya saja, ketika menimba ilmu, kita banyak terpaku pada buku-buku pelajaran formal: textbooks, yang sebagian besar pelajaran itu muncul bukan dari akar budaya lokal.  Di sini, tidak berarti kita harus antipati terhadap pengetahuan luar, namun “mengawinkannya” dengan warisan budaya lokal akan membuat pengetahuan itu menjadi lebih kaya dan cocok (applicable) dengan “wajah” sendiri.

Sebuah peribahasa Minang, “Alam takambang jadi guru” merupakan salah satu pelajaran berharga yang bisa kita petik. Bahwa, belajar itu tidak harus di sekolah formal lalu berhenti ketika telah memperoleh gelar sarjana.  Di samping belajar formal dari buku-buku pelajaran, kita juga belajar di universitas kehidupan, yaitu belajar dari “buku” kehidupan: pengalaman diri dan orang lain, serta seluruh kejadian alam, yang bisa kita tarik hikmahnya.

Mengisi diri agar tumbuh berwajah bestari tidak hanya di kelas-kelas formal. Kehidupan pun dapat menjadi guru yang baik untuk memetik pelajaran yang terkadung dalam setiap detik kejadian.

Ilmu yang dipetik dari guru kehidupan (pendidikan informal), juga kelas-kelas pendidikan dan buku pelajaran (pendidikan formal) menjadi bekal kehidupan kelak. Inilah yang menjaga kita menjadi rupa bestari itu.  Namun, jika hanya mengandalkan kualitas keilmuan yang dikumpulkan dari pendidikan formal saja, itu tidaklah cukup.  Ia harus juga dipoles lewat elemen lain sehingga indah wajah bestari menjadi lebih tampak cantik lagi.

Pada buku ini, kami mencoba mengangkat warisan falsafah lokal berupa pesan bijak dalam bentuk peribahasa, yang masih relevan di dalam kehidupan modern ini.

Sebenarnya, ketika ditelusuri, akan begitu banyak ditemukan pesan bijak nenek moyang kita, jika dilihat dari Aceh hingga Papua, kita dapat menemukan begitu banyak pesan kebaikan itu.   Namun, dalam buku ini, tidak semua local wisdom kami angkat ke permukaan.

Sesuai judul buku ini, Building Personal Brand Equity, maka kami menyajikan tujuh elemen  yang terkait dengan cara bagaimana meningkatkan ekuitas merek diri Anda, yang jika kami amati, ia juga beranjak dari pesan-pesan leluhur kita.

Satitiak jadikan lawik”—setitik jadikan lautan; semoga, ketika buku ini dibaca, maka sedikit falsafah leluhur yang menguatkan elemen pembangun merek diri ini mampu memberikan penguatan diri agar kita menjadi insan yang terbaik.  Diri kita mampu berkontribusi bagi pengembangan Indonesia Hebat!, sesuai dengan peran masing-masing.

Building Personal Brand Equity adalah hal penting agar kita mampu sukses dan eksis di kehidupan.  Sukses keluarga, sukses karier, sukses finansial, sukses persahabatan, ataupun selamat hidup di dunia dan akhirat, jelas membutuhkan cara.

Kami mengangkat tujuh elemen peningkatan merek diri, yaitu melalui peningkatkan kualitas personal (personal quality), kemampuan melayani (serviceability), memberikan janji yang ditepati, menawarkan keunikan (differentiation), memberikan kejujuran (honestly), dapat dipercaya dan kredible (trust and credibility), serta harga diri atau kebanggaan diri (price/proud). Elemen inilah yang menjadikan wajah bestari menjadi cantik rupawan, karena dipoles tidak hanya dengan  ilmu, tetapi juga elok laku.

Ketujuh elemen di atas dikuatkan oleh falsafah lokal Indonesia, di mana pesan-pesan leluhur yang ada—dari Aceh hingga Papua—ini juga bertujuan  untuk meningkatkan ekuitas merek diri agar menjadi powerfull.  Ia merupakan pesan bijak tetua dan leluhur kita, yang nyaris terpendam oleh hingar-bingar kehidupan modern.

Enam dari tujuh elemen peningkatan kualitas merek ini kami adopsi dari sebuah jurnal penelitian dari Copenhagen Business School, bahwa untuk meningkatkan hubungan merek dan pelanggan diperlukan upaya mengelola elemen-elemen peningkatan hubungan tersebut yaitu: kualitas produk (product quality) yang kami ubah menjadi kualitas personal, keunikan, kualitas layanan (service quality) yang kami jadikan kemampuan melayani, janji, kepercayaan dan kredibilitas, serta harga diri/kebangaan diri; ditambah satu tawaran kami bahwa dalam hidup ini agar kita mendapat “tempat” di hati orang lain, maka diperlukannya sebuah kejujuran agar ekuitas merek diri kita tetap terjaga di hati orang lain.

Dari ketujuh elemen tersebut, kami mengaitkannya dengan pesan para leluhur negeri ini, yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, agar ia tetap tumbuh di jiwa-jiwa muda anak negeri.

Falsafah Jawa, “Sing becik ketitik, sing olo ketoro”—yang baik akan terbukti, yang buruk akan kelihatan; sebuah anjuran agar siapa pun tidak takut untuk berbuat baik, meskipun awalnya belum kelihatan, pada saatnya akan menemukan makna dan dihargai.  Begitupun, perbuatan buruk, sebaik-baiknya kita menutupi keburukan itu, pada akhirnya akan ketahuan juga.  Karenanya, tetaplah berbuat baik!

Semoga pesan warisan lokal ini tetap membumi di hati para anak muda Indonesia, dan menjadikannya falsafah hidup untuk meningkatkan indentitas diri, jati diri, dan merek personal sehingga kuat dalam mengahadapi persaingan di zaman modern ini.

Sakapa jadikan gunung”—sekepal jadikan gunung.  Semoga diri yang “kecil” ini, ketika kita telah mengelola merek diri dengan baik: memperbaiki kualitas diri, mau membantu orang lain, mampu menepati janji yang sudah disampaikan, memberikan keunikan, menjaga kepercayaan orang lain dengan baik; yang pada akhirnya kita mampu memberikan kontribusi diri bagi kebermanfaatan orang lain dan semesta alam.

 

Tabik pun nabik tabik.

Antoni Ludfi Arifin

Sari Rahma Yulianthi

Daoed JOESOEF: Sebuah Pengantar

Ini adalah sebuah buku yang berisi pemikiran unik, digubah oleh sepasang suami-istri intelektual, yaitu Antoni Ludfi Arifin dan Sari Rahma Yulianthi. Keunikan karya tulis ini adalah menggabungkan secara komparatif renungan kearifan nenek-moyang kita—berupa pepatah, bukti keberadaan local genius dari berbagai penjuru tanah air—dengan penalaran yang memandu kegiatan bisnis modern yang maunya serba rasional.

Negeri kita memang ‘kaya’ dengan pepatah-petitih yang berbentuk pantun, gurindam, bernilai kesusastraan yang pantas dibanggakan. Penghayatan dan penguasaannya dahulu dipakai sebagai pertanda ketinggian martabat human dan kebangsaawanan budi dari manusia yang menguasainya dan komunitas yang menghanyatinya.

Tempo doeloe ada pemeo:  “Adat orang berbangsa, datang tampak muka, pergi tampak punggung, kata berjawab, gayung bersambut”.  Setiap pelaksanaan hajatan/pesta penting—lamaran, kedatangan mempelai, penunaian nazar, syukuran—selalu dimulai dengan ucapan-ucapan pepatah yang dikemas berupa pantun.  Begitu penting dianggap preservasi karakter gemeischaft ini hingga di zaman kolonial doeloe, pepatah dan berbalas pantun Melayu diajarkan tidak hanya di sekolah rakyat berbahasa Melayu, tetapi juga di sekolah pribumi yang berbahasa pengantar Belanda (Hollandsch-Inlandsche School) di Sumatera, bahkan dipertandingkan di antara sesama sekolah rakyat setempat.

Terkait erat dengan kebiasaan cara beradab seperti ini, ada lagi simbol-simbol peradaban serupa lain, yaitu keberadaan pohon pinang di halaman depan rumah tokoh-tokoh pemimpin seperti kepala adat, kepala suku, penghulu (kepala/lurah kampung).  Pohon pinang yang tegak lurus samampai ini tidak hanya demi keasrian pemandangan, tetapi karena ia melambangkan kelurusan budi, kesederhanaan watak, dan kejujuran diri yang empunya rumah/halaman. Juga membuktikan ketersediaan pinang bagi keperluan seremonial. Biasanya, secara berbalas pantun yang mengandung pepatah-petitih didahului dengan memamah sirih pinang, bahkan ketika menerima tamu sehari-hari sebagai tanda keakraban familial dan keikhlasan pergaulan.

Kini kebiasaan serupa ini sudah dilupakan begitu saja di dalam suasana kehidupan kontemporer dengan berbagai alasan yang dianggap “masuk di akal”.  Kehidupan dan pendidikan modern cenderung membuat masyarakat kontemporer menjadi suatu “throw away society”, membuang dan melupakan begitu saja segala sesuatu yang dianggap “kuno”, termasuk pemahaman pepatah dan perbuatan berbalas pantun/gurindam.

Maka dengan karya tulisnya yang Anda baca ini, pasangan muda intelektual Antoni Ludfi Arifin dan Sari Rahma Yulianthi, merupakan suatu usaha “membangkitkan batang terendam” yang pantas disyukuri.  Semoga akan menyusul tulisan-tulisan sejenis yang memungkinkan masyarakat kita, yang cenderung berubah dari “gemeinschaft” ke gesellschaft, bisa mengalami “renaissance terpilih”, tanpa berniat mendorong balik-mundur perjalanan waktu, tetap melangkah terus ke depan sesuai dengan panggilan zaman, namun tercerahkan (Aufklärung) begitu rupa sehingga tidak meluncur menjadi pergaulan hidup yang tanpa nilai-nilai human yang tetap terpuji. Maju terus, tetapi tetap dalam bingkai kebudayaan.  Ngeli mung ora keli!

Buku ini hadir tidak tanpa kekurangan.  Tak ada gading yang tak retak.  Walaupun begitu ia tetap pantas dibaca dan direnungi isinya.  Ya, ini buku baru, ini baru buku.

Selamat menyimak dan mengkaji dengan pikiran terbuka!

Daoed JOESOEF

Alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne

Catatan Andrie Wongso: Cintai Pekerjaan Kita

“If there is any difference between you and me, it may simply be that I get up everyday and I have a chance to do what I LOVE to do, everyday.”   Warren Buffett

 

Hari Senin identik dengan hari baru untuk kembali mulai bekerja setelah libur Sabtu/Minggu. Tetapi, tidak semua orang bersemangat untuk kembali bekerja, sehingga timbul istilah “I don’t like Monday” dan “Thanks God it’s Friday”.

Kenapa orang malas bekerja/kembali beraktivitas? Kenapa ada rasa enggan untuk memulai hari baru, ketika Senin telah datang?

Ada banyak alasan tentunya, tetapi salah satu alasan yang signifikan adalah karena orang-orang seperti itu tidak bekerja untuk sesuatu yang membuat mereka bergairah; mereka tidak bekerja dalam ruang lingkup pekerjaan yang mereka sukai.

Pernahkah Anda melihat seorang penyanyi atau pelukis yang enggan untuk menyanyi atau melukis? Tidak pernah ada kan? Seorang penyanyi akan sangat bergairah ketika ia diberi kesempatan untuk menyanyi; bahkan kalau bisa di mana saja dan kapan saja ia akan bernyanyi. Alasannya, ia mencintai/menyukai aktivitas bernyanyi.

Demikian juga dengan kita. Misalnya, sales people. Untuk menjadi seorang salesman yang sukses, Anda harus mulai menyukai dan mencintai pekerjaan Anda! Bila tadi pagi Anda tidak bergairah untuk bangun, memulai hari, dan melakukan pekerjaan Anda seperti bertemu pelanggan dan memasarkan produk Anda, bagaimana mungkin Anda bisa mencapai hasil penjualan yang maksimal?

Jadi, seperti yang dikatakan oleh Warren Buffett, orang terkaya ketiga di dunia (Forbes, 2011): “Cintai pekerjaan/aktivitas Anda.” Karena dari rasa cinta inilah, akan lahir “maha karya”, yaitu hasil/karya yang luar biasa!!

Semangat pagi!

Live positively

Masih ingatkah, ketika kita melihat iklan Coca-Cola, versi “Murid Bercerita Tentang Ayahnya?”

Ceritanya begini, sang anak pada waktu kelas mengarang menceritakan kisah pekerjaan ayahnya dengan bangga: “Ayahku menyetir sebuah truck merah besar, setiap hari ayah berangkat pagi-pagi sekali, dan menghantar banyak sekali minuman. Tidak hanya itu, ayah juga menghantar buku untuk anak-anak. Ayah pernah cerita, Ia bahkan sering membantu membuat pertandingan sepak bola jadi sukses. Ayah juga pernah pulang telat, katanya  harus membantu orang lain membersihkan pantai.  Namun, ayah selalu bilang, ayah senang melihat orang lain senang. Jika ditanya ayahku kerja apa, aku selalu menjawab, ayahku mengantarkan kegembiraan.”

Tidak ingin, menambah publisitas merek Coca-Cola, karena Coca-Cola merupakan minuman berkarbonasi yang memang telah menjadi pemimpin pasar (market leader) di kategorinya.  Dan tanpa, ingin membahas tema tanggung jawab sosial perusahaan (coprorate social responsibility) iklan tersebut; yang pastinya saya teringat ketika masa-masa sekolah dulu, yaitu di kelas mengarang, sering kita menceritakan karakter orang tua kita, apakah ayah atau ibu kita.

Pada potongan-potongan cerita di atas, memperlihatkan sebagai seorang karyawan, banyak hal yang dapat dipetik dan dipelajari, setidaknya kita harus mensyukuri pekerjaan apapun peran kita di dalam perusahaan, apakah pekerjaan tersebut merupakan staf administrasi saja, tenaga penjual atau SALESMAN, office boy, atau bahkan sampai puncak manajemen.

Sang ayah dengan bangganya menceritakan rinci pekerjaan yang dilakukan kepada sang anak, dengan menggunakan kata-kata positif, seperti live is positive think, walaupun kita tahu, bahwa sang ayah adalah hanya seorang sopir atau canvasser pada sebuah perusahaan besar, sebesar perusahaan Coca-Cola.

Potongan storyboard dari cerita di atas, dapat kita pelajari banyak hal, diantaranya adalah:

Pertama, jabatan bukan yang utama dalam hidup ini semua adalah titipan Tuhan, amanah yang diberikan oleh perusahaan kepada kita, sebagai karyawan, haruslah dijaga dan dijalankan dengan baik; apapun peran kita. Kunci amanah ini adalah kerja keras dan kejujuran dalam bekerja.

Kerja keras adalah bagaimana kita bisa bersungguh-sungguh menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan, dengan tidak menunda-nunda pekerjaan dan bahkan mengabaikannya; tetapi sebagai karyawan kita harus bersemangat untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan.  Pada potongan cerita di atas, bahkan sang ayah menceritakan pernah pulang telat, katanya Dia harus membantu orang lain untuk membersihkan pantai.

Kejujuran adalah kunci utama keberhasilan dalam menjalankan amanah yang diberikan, jujur diekspresikan dengan tindakan yang sungguh-sungguh, tanpa kebohongan, dan tipu muslihat.

Bayangkan, ketika seorang karyawan mencoba untuk memanipulasi keuangan, dengan melakukan pengelembungan biaya-biaya operasional; jika hal tersebut diketahui oleh pihak manajemen, maka apakah mungkin sang karyawan akan mendapatkan amanah pekerjaan yang lebih baik, karir yang lebih cepat, atau promosi jabatan? Sangat mustahil, bukan?

Kedua, senang membantu orang lain.   Di perusahaan, yang beberapa diantaranya telah menerapkan Balance Score Card, dimana pada tingkat individu karyawan, kita, memiliki key performance indicator masing-masing.  Berarti, pekerjaan masing-masing individu didasari atas upaya peningkatan performance masing-masing karyawan. Jika kita bekerja pada bagian canvasser seperti “sang ayah’ mungkin indikator kinerja hanya berdasarkan jumlah outlet yang dikunjungi, kepuasan pelanggan toko yang didatangi, pelayanan hantaran yang cepat, dan lainnya.  Namun, dengan sifat live positively ini, kita juga bagian dari orang lain dalam berinteraksi.

Tidak ada salahnya, kita membantu rekan sekerja, lingkungan sekitar, atau orang lain yang tidak terkait dengan kinerja pekerjaan, tetapi ini membantu membuat hidup kita lebih berarti bagi orang lain; seperti cerita Si Anak: “Ayah juga menghantar buku untuk anak-anak.”

Ketiga, yang terpenting, senang membuat orang lain senang. Apa susahnya membuat orang lain senang? Di kantor, jadilah sahabat yang baik bagi rekan sekerja, jadilah anak buah yang menyenangkan bagi atasan, dan jadilah atasan yang disenangi bawahan.  Di rumah, jadilah ayah dan suami yang diidolakan keluarga.  Seperti pada cerita si Anak: “Ayah juga pernah pulang telat, katanya harus membantu orang lain membersihkan pantai’”

Diceritakan oleh seorang sahabat Regional Sales Manager (RSM) di sebuah perusahaan farmasi nasional, kebiasaanya dinas ke luar kota (up country)  “mengharuskan” beberapa rekan-rekan Area Manager (AM) di daerah untuk menjemput Beliau di bandara untuk melakukan visit ke field bertemu dengan user dan key person outlet. Kebiasaan ini, “menyenangkan” bagi RSM tersebut, bahkan sangat menyenangkan, sampai ia terpikir, saya juga harus dapat melayani rekan-rekan AM di level bawah, tidak hanya membantu mempermudah pekerjaan mereka, membantu mensupervisi mereka, juga sesekali jika mereka datang ke kantor pusat untuk urusan meeting koordinasi, terkadang, saya melakukan hal yang sama, dengan perbuatan baik yang telah dilakukan para AM tersebut. Hal ini dibuktikan oleh rekan RSM tadi, dengan suka-rela, sesekali Beliau sendiri yang menjemput para anak buahnya ke bandara ataupun ke Stasiun Gambir.

Terlihat ini menyenangkan bagi semuanya.  Semoga dari sepenggal cerita iklan “Live Positively” di atas, kita dapat mengantarkan kegembiraan bagi banyak orang.

Harusnya…!!!

Reading Interest

Bangsa yang tidak membaca adalah bangsa yang meraba-raba dalam gelap.

~ Muktiono D. Joko

 

Setelah menyelesaikan pendidikan formal di bangku sekolah dulu, kebanyakan di antara kita sibuk dengan aktivitas atau pekerjaan utama sehingga waktu yang dulunya kita gunakan untuk belajar, membaca, dan menggali ilmu: tradisi literasi (baca-tulis), dialihkan untuk bekerja.

Kini tradisi baca-tulis di sekolah tersita, tergantikan oleh aktivitas pekerjaan. Tapi tak ada salahnya bukan, menyandingkan belajar dan bekerja dalam aktivitas sehari-hari. Sama-sama bernilai ibadah. Belajar dan bekerja adalah dua hal yang sama baiknya. Alangkah baiknya juga jika kedua hal tersebut saling melengkapi, bak siang dan malam.

Bagi sebagian orang, tradisi literasi—baca-tulis—masih sedikit diteruskan. Sekali-sekali di sela-sela aktivitas rutin kantor, tak ada ruginya kita membuat catatan-catatan penting saat meeting, membuat surat korespondensi, atau membaca laporan bulanan.

Tradisi baca-tulis dan dialog akademis yang dibangun saat sekolah dulu mulai digantikan oleh tradisi lisan dan kinestetik: kerja, kerja, dan terus bekerja. Syukurnya ada sebagian orang yang tetap melestarikan tradis baca-tulis di tengah-tengah aktivitas kerja untuk menambah ilmu pengetahuan dan kompetensi diri lewat jalan belajar: membaca.

Akankah tradisi membaca ini dapat berjalan seiring—bersama, antara kerja dengan kebiasaan membaca?

Minat membaca bukan kewajiban yang muncul dari paksaan, bukan juga tradisi, apalagi bakat yang muncul sejak lahir. Ia lebih dari ketiganya: membaca sebagai bagian pertumbuhan kehidupan. Sejak balita kita diajarkan untuk mengenali huruf, kata, dan angka; bahkan hingga di perguruan tinggi pun kita terus belajar menggali pengetahuan dengan membaca untuk memahami konteks keilmuan tertentu.

 

Membaca yang Bertujuan

Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai. Dengan tujuan kita mengarahkan langkah menuju apa yang kita inginkan. Adanya tujuan juga membantu kita mengalokasikan sumber daya: waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi untuk mencapai tujuan tersebut.

Begitu pun membaca, haruslah memiliki tujuan. Setidaknya ada dua tujuan membaca: tujuan kreasi dan rekreasi.

Pertama, membaca yang bertujuan sebagai sarana kreasi yaitu membaca untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan cara mengikat makna bacaan yang didapat menuju perubahan diri. Buku adalah amunisi yang ampuh untuk melakukan perubahan. Belajar menggali ilmu dan memahami fenomena kehidupan yang didapat lewat membaca inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Manusia mampu mengkreasi pengetahuan demi menyongsong kehidupan yang lebih baik. Menjadikan bacaan sebagai “cahaya” yang menerangi derap langkah kehidupan manusia berarti mempersiapkan jalan hidup yang lebih terang. Seperti yang telah diutarakan pada bab-bab sebelumnya, manusia mampu mempelajari “bacaan” kehidupan lewat bacaan tersurat maupun tersirat. Tersurat, dari pendidikan formal lewat bacaan buku-buku pelajaran yang ditulis oleh para guru kehidupan: para cerdik cendekia. sedangkan membaca secara tersirat dari pengalaman kehidupan diri sendiri maupun orang lain untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. yaitu mengoreksi nilai-nilai negatif dan meneruskan hal ihwal positif untuk kehidupan esok yang lebih baik.

Kedua, tujuan membaca untuk rekreasi yaitu membaca sebagai sarana mencari kesenangan, hiburan. Bacaan rekreasi ini didapat dari buku-buku cerita pendek, novelette (novel pendek), novel, puisi, dan bacaan sastra lainnya. Menikmati kisah-kisah penuh tawa canda, suka-duka, sedih-bahagia, dari kisah cerita kehidupan yang sarat pembelajaran baik moral, spiritual, maupun budaya yang ditulis dalam buku tersebut. Bagi pembaca, kisah cerita dalam sebuah buku dapat menjadi “pengalaman” emosional yang luar biasa, seperti apa yang disampaikan Paul Jennings, “Berbaring di tempat tidur sambil cekikikan sendiri, menangis sendiri, merasa penasaran, dan menjelajahi dunia antah-berantah yang dihadirkan penulis dalam pikiran Anda, merupakan keasyikan tersendiri.

Lebih dalam lagi, tujuan membaca untuk mencerahkan diri, dan dengan demikian mampu memberikan pelita bagi orang lain. Tujuan ini sangatlah mulia. Membuka “jendela” dan melihat cakrawala yang lebih luas demi kedewasaan berpikir dan bertindak. Membaca menjadikan kita makhluk yang terus terbarukan dalam hal pemikiran. Membaca buku tekstual (tersurat) dan kontekstual (tersirat) dapat meng-update pengetahuan, cara pandang, dan sikap kita. Lebih jauh, kegiatan membaca yang dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang dapat memperbarui tingkah laku kita menuju perilaku manusia baru yang lebih baik. Inilah peran penting membaca untuk membangun diri (lihat bagan Pembangunan Diri Lewat Membaca di bawah ini).

Bagan Pembangunan Diri Lewat Membaca

 

Awali dengan Niat

Segala sesuatu yang akan kita kerjakan haruslah diawali dengan niat. Niat ini yang akan menentukan keberhasilan atau tercapainya suatu tujuan. Niat juga yang akan mengarahkan kita untuk mencapai tujuan. Membaca juga harus diniatkan, harus ada “pemaksaan” dari dalam diri, untuk apa saya membaca.

You are what you think. Engkau adalah apa yang engkau pikirkan. Memikirkan yang baik akan mengarahkan energi untuk melakukan hal-hal yang baik. Imam An-Nawawi berpesan: “Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar maka perbuatan itu benar dan jika niatnya buruk maka perbuatan itu buruk.

Jika Anda seorang pengajar, membaca diniatkan untuk mengumpulkan serpihan pengetahuan, yang kelak dibagikan kepada murid-murid. Sebuah nilai luhur agar para anak didik mendapatkan bekal pengetahuan yang baik.

Jika Anda seorang profesional di perusahaan, membaca diniatkan untuk mempertajam pengetahuan teknis dan nonteknis yang akan bermanfaat dan mempermudah Anda dalam menjalankan pekerjaan.

Jika Anda seorang ayah atau ibu, membaca diniatkan untuk memperkaya pengetahuan yang bisa dibagi kepada anak-anak, sehingga kelak mereka menjadi anak yang berguna.

Tidak ada niat membaca yang buruk. Seyogianya mencari pengetahuan itu pekerjaan yang mulia. Jadi membaca adalah tugas “spiritual” demi menjadi cahaya atau penerang bagi diri sendiri dan orang lain.

Masih ingat istilah mestakung? Kata ini dipopulerkan oleh Prof. Yohanes Surya, Ph.D., yang merupakan akronim dari seMESTA menduKUNG. Prof. Yohanes adalah seorang fisikawan terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Beliau akrab disapa Prof. Yo, terlahir di Jakarta pada 6 November 1963. Menempuh pendidikan sekolah dasar di Pulogadung Petang II, Jakarta Timur pada tahun 1974, lalu melanjutkan sekolah menengah di SMPN 90 Jakarta dan SMAN 12 Jakarta. Beliau terlahir dari keluarga yang tidaklah kaya raya, bahkan sebaliknya sangat memprihatinkan. Ayahnya yang pensiunan tentara hanya memiliki warung kecil di daerah Pulo Kambing, Jakarta Timur. Namun, kemiskinan bukan menjadi penghalang gairah beliau untuk belajar. Orangtua yang tidak mampu serta kemiskinan yang menyelimuti tidak mencabut hak beliau untuk terus menggali ilmu. Semangatnya untuk belajar sangat tinggi. Berbekal semangat belajar, beliau berhasil memperdalam fisika pada Jurusan Fisika MIPA Universitas Indonesia (UI) hingga tahun 1986 lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan Akademik (PMKA). Pesannya, “Berbekal ketekunan, ngotot, dan fokus pada target, semesta akan terseret untuk mendukung impian, membuat kita mampu melakukan pekerjaan yang semula dianggap mustahil! Inilah Mestakung!!!”

Setelah menyelesaikan studi di MIPA UI, beliau mengajar di SMAK I Penabur Jakarta hingga tahun 1988 dan selanjutnya menempuh program master dan doktornya di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Program masternya diselesaikan pada tahun 1990 dan program doktornya di tahun 1994 dengan predikat cum laude. Setelah mendapatkan gelar doktoral, Prof. Yo bekerja sebagai consultant of theoretical physics di TJNAF/CEBAF (Continuous Electron Beam Accelerator Facility) di Virginia, Amerika Serikat. Walaupun sudah punya greencard (izin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat), Yohanes Surya tetap pulang ke Tanah Air dengan tujuan ingin mengembangkan ilmu fisika di Indonesia dan mengharumkan nama Indonesia melalui Olimpiade fisika. Semboyannya waktu itu adalah “Go get gold”.

Prof. Yohanes Surya adalah sosok fisikawan yang gemar membaca. Sungguh luar biasa, Yo yang dulunya anak pemilik warung kecil, hidup dalam kondisi ”kritis”, tidak pernah kehilangan mimpinya dan tetap berusaha dengan sungguh-sungguh. Dibutuhkan waktu panjang untuk berprestasi, maka mestakung pun akan terjadi. Kini Prof. Yo mampu mengharumkan bangsa di mata dunia. Mestakung yang telah teruji.

Pertajam Tujuan

Tujuan membaca bagi sebagian orang adalah untuk menyuburkan “lahan kering” pemikiran. Membaca sebagai nutrisi jiwa memberikan vitamin dan mineral bagi pemikiran sehingga ia terus “terbarukan”.

Orang yang suka membaca sering diasosiasikan sebagai “kutu buku”, asosiasi yang penting bagi kita sebagai “doa” yang tidak hanya sekadar label tetapi stempel yang menyebabkan kita memiliki konsisten untuk terus membaca (menggali ilmu).

Tak satu pun seseorang di muka bumi ini yang rajin membaca, karenanya ia miskin. Tetapi mereka yang dulu dicap ‘kutu buku’ justru adalah orang-orang yang hari ini berhasil. Berhasil karena pengetahuan yang dimilikinya.

Tengok saja mereka yang diasosiasikan rajin belajar dan membaca: B.J. Habibie dijuluki si Mr. Crack, karena menemukan postulat atau teori yang dapat memperkirakan titik rawan retakan atau cracks progression pada pesawat sampai perhitungan atomnya.

Pada tahun 1960 kala itu musibah pesawat sering terjadi karena ‘keretakan’ konstruksi yang tidak terdeteksi. Biasanya titik itu terletak pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Dengan postulat Habibie, kecelakaan tersebut bisa dihindari. Karena titik crack bisa diperkirakan maka lahirlah Faktor Habibie di mana para engineering dapat mempergunakan bahan seringan mungkin, dengan campuran logam yang lebih ringan, porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang.

Itulah Mr. Crack yang terus belajar. Beliau memiliki mimpi yang jelas (clear vision) untuk membangun industri dirgantara. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, beliau memilih jurusan teknik penerbangan dengan spesialisasi kontruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Jerman; karena teringat pesan Bung Karno tentang pentingnya dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia. Di balik kecerdasan dan keberhasilannya itu, Habibie tentu memulainya dengan jalan membaca.

Membaca haruslah bertujuan. Sama halnya ketika kita melakukan aktivitas lainnya. Tujuan inilah yang mengarahkan kita untuk melakukan ativitas membaca. Tujuan harus jelas, sejelas saat Ir. Soekarno memimpikan Indonesia merdeka; sejelas Mohammad Hatta membangun ekonomi kerakyatan melalui pilar koperasi; sejelas Ki Hadjar Dewantara memelopori pendidikan bagi kaum pribumi.

Wajah Buram Buku

Minat membaca yang rendah menyebabkan buku di rak-rak rumah, perpustakaan, dan ruang-ruang kelas menjadi buram. Ia kusam bukan hanya karena debu dan termakan rayap. Tapi lebih dalam lagi, buramnya buku akan berdampak kepada buramnya pemikiran anak bangsa, dan akhirnya menyuramkan kemajuan negeri ini.

Thomas V. Bartholin (20 Oktober 1616–4 Desember 1680), seorang ilmuwan Denmark, menyadari akan pentingnya buku untuk menyuplai energi pengetahuan baginya. Menurutnya, “Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, ilmu pengetahuan macet, filsafat lumpuh, sastra bisu, dan segalanya diselimuti kegelapan.”

Jadi tanpa buku yang dibaca dunia tidak akan terang benderang seperti hari ini. Tanpa buku, ilmu pengetahuan tidak dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Itulah mengapa “sains akan macet” jika pemikiran kita tidak berlandaskan penemuan, riset, teori, dan pengalaman para ilmuwan terdahulu.

Lalu apakah kita telah menyukai buku? Apakah kita memiliki minat yang tinggi untuk membaca?

Jika kita tanyakan kepada anak kita, sahabat, atau adik yang sedang menginjak masa-masa ABG, siapa gerangan idola, tokoh pujaan, atau role model mereka? Tidak banyak yang menyebutkan tokoh-tokoh yang mencintai buku: ilmuwan, peneliti, sastrawan, negarawan, budayawan, atau bahkan agamawan. Sebut saja Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Khalil Gibran, Soekarno, Mohammad Hatta, Gus Dur, B.J. Habibie, bahkan Quraish Shihab. Ironisnya banyak di antara mereka malah teridola pada bintang film, artis, selebriti, syukur saja jika selebriti tersebut adalah mereka yang rajin membaca dan menulis.

Kini coba tanyakan kembali pada diri sendiri, apa yang akan kita lakukan untuk mengisi waktu-waktu senggang? Membaca atau menonton? Belajar di rumah atau jalan-jalan? Membeli buku atau ganti gadget?

Yohanes Surya sangat menyukai buku. Baginya ada banyak hal yang didapat dari membaca buku. Membaca buku adalah suatu kegemaran. Membaca buku bukan karena diwajibkan, apalagi paksaan dari orangtua atau guru sekolah. Ia lebih tinggi dari segalanya, yaitu membaca karena hobi.

Jika kita mampu menempatkan peran membaca sebagai kegemaran, hobi, atau kesenangan (reading interest)—bukan sebagai beban dan kewajiban—maka membaca akan menjadi sangat fundamental dalam mengubah kegemaran tersebut menjadi bagian dari peradaban. Membaca menjadikan insan yang lebih berbudaya, santun, dan beradab: memiliki budi pekerti yang baik, seperti falsafah padi, “Semakin berisi semakin merunduk.”

Minat, hobi, atau kegemaran membaca yang dilakukan secara terus-menerus setiap saat akan menjadikan kebiasaan suka membaca (reading habits). Insan yang secara terus-menerus ingin membaca untuk menambah pengetahuan, merasa dirinya selalu haus akan ilmu pengetahuan.

Azyumardi Azra, mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah satu di antara banyak orang yang cinta membaca. Baginya buku merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Alasannya, buku tersebutlah yang berperan membentuk cara pandang dunia (wordview): cara berpikir, karakter, dan tingkah laku sehari-hari.

Ia sudah bisa membaca huruf ketika belum masuk sekolah dasar. Ia belajar membaca nama-nama bus antarkota yang melintas dan berhenti di depan rumah di pinggir jalan raya provinsi yang menghubungkan Kota Padang dengan Padangpanjang dan Bukittinggi. Hobi membacanya semakin meningkat ketika melanjutkan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), bahan bacaan yang dibaca tidak lagi buku sastra pujangga baru tetapi mulai membaca koran dan buku pengetahuan lainnya. Hobi membaca ini terus meningkat hingga ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN tahun 1976–1982. Hobi tersebut berlanjut hingga ia meneruskan studi pascasarjana di Columbia University pada tahun 1986 hingga meraih gelar MA pada tahun 1988 dan gelar Ph.D pada tahun 1992 di universitas yang sama.

Di tengah kesibukan dan keterbatasan waktu, ia membaca dan menulis di mana saja. Jika ada waktu: di bandara ketika menunggu boarding, di atas pesawat, di atas mobil, di hotel, atau di sela-sela seminar. Bagi Azyumardi, menulis adalah salah satu sarana penting menebarkan ilmu pengetahuan. Karena ilmu itu dicari dengan cara membaca dan berpikir, juga harus disebarkan untuk kehidupan dan kemajuan umat manusia.

Akhirnya kebiasaan membaca akan menciptakan karakter diri yang terus haus akan bahan bacaan (reading character) sehingga mampu mengubah peradaban, yaitu budaya masyarakat yang suka membaca (reading culture). Tanggung jawab menjadikan hobi membaca menjadi budaya baca haruslah dimulai dari rumah, dimulai dari orangtua, dimulai dari diri sendiri.

Dengan membudayanya minat baca di masyarakat, semoga kekhawatiran Taufiq Ismail pada puisi “Kupu-Kupu di dalam Buku”, sirna. Bahwa negeri ini, Indonesiaku, banyak anak-anak bangsa yang cinta akan buku, dan gemar membaca.

 

Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.”

~Ali bin Abu Thalib

Mengembangkan Wacana Tulisan

Planning to write is not writing. Outlining, researching, talking to people about what you’re doing, none of that is writing. Writing is writing.”

~E. L. Doctorow

 

Buku adalah jendela ilmu. Jendela ilmu itu harus dibuka agar ruang-ruang kehidupan menjadi lebih segar dengan “udara” yang masuk. Membuka jendela juga menyebabkan kita dapat melihat terangnya dunia luar. Ini karena di dalam kadang sudah terasa pengap, butuh oksigen dan cahaya untuk menyegarkan dan menerangi. Itulah buku dan membaca, seperti udara dan cahaya bagi kehidupan. Maka bacalah!

Buku adalah sumber ilmu dan pengetahuan dan membaca adalah cara kita menggali pengetahuan tersebut. Dengan membaca kita memperluas cakrawala hidup dan memperkaya pemikiran; karena tanpa membaca, pikiran akan “keruh”, sama seperti air danau, yang airnya tidak bersumber dari sungai-sungai jernih. Lama kelamaan, airnya akan keruh karena tak tergantikan.

Bak air kolam yang tidak pernah dibersihkan dan diganti airnya akan membuat gatal-gatal orang yang berenang di dalamnya. Diperlukan “pemurnian” agar air kolam tetap “menyehatkan” para perenang. Serupa juga, tanpa membaca pikiran kita akan tumpul. Pepatah lama baik menjadi renungan: “lebih baik jadi kutu buku daripada mati kutu.”

Banyak orang menyebutkan akal dan belajar itu seperti raga dan jiwa. Tanpa raga, jiwa hanyalah udara hampa. Sebaliknya, tanpa jiwa, raga hanyalah kerangka tanpa makna. Jika boleh, aku mengibaratkan membaca dan menulis sebagai jiwa dan raga, saling melengkapi.Raga tanpa jiwa adalah mati. Orang menyebutnya “mayat hidup”. Jiwa tanpa raga itu namanya kosong. Di sinilah pentingnya membaca dan menulis, saling melengkapi.

Membaca secara harfiah berarti melihat serta memahami isi tulisan. Membaca juga bisa berarti konotatif, yaitu melihat dan memahami kejadian-kejadian hidup, baik dan buruk, dan memetik makna dari kejadian itu untuk kehidupan diri sendiri dan orang lain. Hanya membaca saja tidaklah lengkap karena semata mencerahkan “jiwa” diri sendiri. Jiwa itu haruslah ditambah raga agar bisa hidup berarti. Untuk itu, pengetahuan yang dimiliki haruslah dibagi kepada orang lain lewat tulisan.

Nutrisi menulis itu dari membaca. Dengan banyak membaca berarti Anda memiliki banyak bahan untuk menulis. Bacaan itu bukan hanya bersumber dari buku-buku, tetapi dapat juga dari “buku-buku kehidupan”, yang Tuhan perlihatkan melalui setiap kejadian.

Begitu banyak buku kehidupan yang dapat dijadikan sumber inspirasi dalam tulisan. Ibarat engkau gunakan seluruh pepohonan untuk dijadikan pensil dan pena, lalu lautan sebagai tinta, keagungan Tuhan tidak akan habis untuk dijadikan bahan dan ide menulis. Itulah kekuatan sebuah “buku” sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi.

Agar ide yang ada di kepala dapat dengan mudah dituangkan ke dalam tulisan, ada beberapa cara yang bisa digunakan. Caranya, yaitu menuliskannya dengan memaparkan informasi (eksposisi), menggambarkan keadaan (deskripsi), menceritakan (narasi), memberikan pendapat atau opini (argumentasi), atau mengimbau (persuasi). Itu semua tinggal penulis gunakan untuk mengembangkan gagasan ke dalam pola-pola wacana.

Secara terperinci, Ismail Marahimin, dalam buku Menulis secara Populer, menjelaskan kelima corak wacana tersebut.

  1. Eksposisi biasa juga disebut pemaparan, yakni salah satu bentuk karangan yang berusaha menerangkan, menguraikan, atau menganalisis suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan dan pandangan seseorang. Dengan corak pemaparan ini, penulis berusaha menjelaskan kejadian atau masalah secara analisis dan terperinci, yaitu memberikan informasi dan memperluas pengetahuan pembacanya. Untuk meneguhkan penjelasan, penulis sering kali memaparkan data dalam bentuk grafik, diagram, tabel, atau bagan. Untuk mengembangkan tulisan, pemaparan dalam corak eksposisi dapat ditulis dalam bentuk uraian proses, tahapan-tahapan, atau cara kerja.
  2. Deskripsi adalah corak tulisan dengan penggambaran suatu benda, tempat, suasana, atau keadaan. Dengan deskripsi, seorang penulis mengharapkan pembacanya dapat ”melihat” apa yang dilihatnya, dapat ”mendengar” apa yang didengarnya, ”merasakan” apa yang dirasakannya, serta sampai pada ”kesimpulan” yang sama dengannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupakan hasil observasi melalui pancaindra, yang disampaikan dengan kata-kata. Tujuan penulisan deskripsi ini adalah agar pembaca dapat merasakan kesan sesuai dengan pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulis. Dengan begitu, seakan-akan pembaca terhanyut dalam tulisan tersebut: melihat, merasakan, dan mengalami sendiri objek yang dideskripsikan penulis.
  3. Narasi atau kisahan merupakan corak tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Narasi dimaksudkan memberi tahu pembaca tentang yang telah diketahui atau yang dialami Narasi lebih menekankan pada dimensi waktu dan adanya konflik. Dalam corak penceritaan ini, penulis menuliskan fakta, misalnya tulisan biografi/riwayat seseorang, autobiografi/riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri, atau pengalaman. Penceritaan dapat juga dilakukan dengan menulis kisah khayalan/fiksi atau rekaan, seperti pada novel atau cerita pendek.
  4. Argumentasi merupakan corak tulisan yang bertujuan membuktikan pendapat penulis. Tujuannya adalah meyakinkan atau memengaruhi pembaca agar menerima pendapat Cara meyakinkan pembaca itu dapat dilakukan dengan menyajikan data, bukti, atau penalaran. Corak argumentasi dapat juga berisi tanggapan atau sanggahan terhadap suatu pendapat dengan memaparkan alasan-alasan yang rasional dan logis.
  5. Persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya ajak ataupun berdaya Tujuannya adalah membangkitkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti imbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan penulis. Dengan kata lain, persuasi berurusan dengan masalah memengaruhi orang lain lewat tulisan.

 

Dengan kelima corak wacana tulisan ini, seorang penulis dapat dengan mudah menuangkan ide, gagasan, saran, data, fakta, atau cerita ke dalam corak-corak yang sesuai. Dengan demikian, kata-kata yang disusun dapat dengan cepat mengalir menjadi tulisan yang enak, renyah, dan mudah dipahami.

Membaca: Bekal Menulis

“Mengapa para penumpang di gerbong kereta api Jakarta–Surabaya tidak membaca novel, tapi menguap dan tertidur miring? Mengapa di dalam angkot di Brebes, Tegal, penumpang tidak membaca kumpulan cerpen, tapi mengisap rokok? Mengapa di halaman kampus yang berpohon rindang mahasiswa tidak membaca buku teks kuliahnya, tapi bermain gaple? Kenapa di kapal Makassar–Banda Naira penumpang tidak membaca kumpulan buku puisi, tapi bermain domino? Kenapa susah mendapat calon pegawai tamatan S-1 yang mampu menulis proposal bagus atau rencana kerja yang baik? Kenapa di ruang tunggu dokter spesialis penyakit jantung di Cirebon pengantar pasien tidak membaca buku drama, tapi asyik bermain SMS? Mengapa jumlah total pengarang di Indonesia hanya cocok untuk negara berpenduduk 20 juta, bukan 200 juta?”

~Taufiq Ismail

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran tentunya, pelajaran untuk memperbaiki diri atas apa pun yang sudah diperbuat. Di sanalah kita “membaca” kejadian-kejadian yang dialami sebagai bacaan kehidupan: baik atau buruk, harus ada pembenahan diri untuk lebih baik lagi. Pengalaman-pengalaman berharga itu dapat dijadikan teman baik yang arif. Pengalaman bisa diperoleh dari “jalan” hidup diri sendiri ataupun cerita orang lain.

Masih ingat berita pengendara minibus yang sehabis ”pesta” ekstasi dan minuman keras menyeruduk dan menyebabkan sembilan orang tewas di bilangan Tugu Tani, akhir Januari 2012 lalu? Kenikmatan semu akan berbuah sengsara berkepanjangan. Pelajaran berharga ini tidak akan didapatkan pada sekolah formal apa pun. Itulah “buku” kehidupan yang bisa kita petik pelajarannya.

Sebaliknya, dalam cerita keberhasilan Tukul Arwana, host “[Bukan] Empat Mata”, dapat dengan jelas kita lihat bahwa kerja keras, semangat juang tinggi, upaya yang gigih dan pantang menyerah dapat mengkristal menjadi “kesuksesan” yang bisa “dibaca” setiap hari di salah satu stasiun TV. Tanda baik yang bisa kita petik dan pelajari dari perjalanan karier Tukul adalah: ia telah menginvestasikan waktu bekerja untuk dengan ulet mencapai cita-citanya. Setiap detik digunakan untuk hal ihwal bermanfaat yang akhirnya akan berbuah kenikmatan. Itulah buku baik kehidupan.

Buku kehidupan yang lain adalah pelajaran yang dapat diambil di sekitar kita. Musibah banjir di lingkungan kita bisa jadi akibat penggundulan hutan atau ulah manusia membuang sampah sembarangan. Berarti kita telah membaca bahwa cara-cara tidak baik, seperti penebangan liar, pembalakan hutan, dan membuang sampah tidak pada tempatnya akan menyebabkan banjir dalam jangka panjang. Karena kita belajar dari “buku alam”, upaya yang harus dilakukan adalah lebih arif terhadap bumi, melakukan penanaman pohon, dan ramah terhadap lingkungan. Semua kejadian adalah “bacaan” kehidupan agar manusia mampu berpikir dan berbuat baik. Semua bacaan tersebut tersirat, yang kaya makna pembelajaran.

Belum lagi jika kita lebih peka melihat bacaan kebesaran Ilahi dari proses kehidupan di bumi ini. Ambil contoh saja proses fotosintesis di mana Tuhan telah memperlihatkan “buku” kehidupan lainnya, yaitu “desain” yang mahadahsyat. Tumbuh-tumbuhan menggunakan air, karbon dioksida, dan cahaya matahari untuk kehidupan, lalu menyintesisnya menjadi oksigen dan glukosa. Karbon dioksida yang diembuskan miliaran umat manusia digunakan tumbuhan untuk berfotosintesis. Kemudian sebaliknya, manusia memanfaatkan oksigen hasil fotosintesis untuk bernapas dan hidup. Bukankah ini buku pelajaran yang mahatinggi? Mengingatkan kita untuk seharusnya tetap merawat dengan baik tanaman di bumi ini dan mensyukuri nikmat Tuhan.

Membaca merupakan jendela ilmu. Banyak informasi dan pengetahuan yang didapatkan dari membaca. Dari bacaan itu juga tersedia jutaan referensi tentang banyak hal, menyangkut kehidupan manusia. Kehidupan ini begitu “indah” dan tidak semua orang bisa memahami eloknya kehidupan. Ini hanya bisa dilakukan orang-orang yang mampu membaca “kehidupan” dan mempelajari kehidupan dari pengalaman orang lain, dan melukiskannya ke dalam gambar indah kehidupan. Dari goresan kuas pada kanvas dan “warna” dalam hari-hari kehidupan, menjadi bagian indah yang mengisi kehidupan ini agar lebih berarti.

“Membaca adalah jendela dunia.” Untuk membuka dunia itu maka bacalah buku yang bersumber dari hal-hal terbaik. Membaca bisa bermakna denotasi, yaitu membaca buku-buku sesungguhnya yang kita dapatkan pada pendidikan formal, seperti buku pelajaran. Ada kalanya kita membaca buku-buku di luar pendidikan formal untuk meningkatkan kompetensi diri: buku-buku motivasi, pengembangan diri, bahkan majalah, koran, atau tabloid.

Suherman dalam bukunya Bacalah! Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban menyatakan, “Selain mengandung banyak manfaat yang melimpah ruah dan merupakan kebanggaan besar, buku adalah harta yang paling mulia dan keindahan yang paling berharga. Buku adalah teman duduk yang paling setia, pelipur yang paling menyenangkan, dan teman keluh kesah yang paling bisa dipercaya.” Buku yang dibaca bagaikan air yang diminum untuk pelepas dahaga. Selain menghilangkan rasa dahaga, air juga menyehatkan raga.

Membaca juga bermakna konotasi, yaitu kita melihat segala sesuatu yang terjadi, sebagai “bacaan” kehidupan agar kita bisa berperilaku lebih baik. Kejadian-kejadian  ini merupakan referensi kebesaran Tuhan, yang telah ditulis-Nya, di dalam perjalanan hidup manusia, agar manusia mampu berpikir dan berbuat baik.

Membaca buku-buku atau mempelajari kejadian alam yang sudah ditakdirkan Tuhan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi referensi kehidupan untuk berbuat lebih baik. Membaca memberikan “energi” dan kekuatan yang memperkaya diri. Membaca adalah cara kita mempelajari sesuatu, agar pikiran kita tetap “muda”, tetap segar, dan terbarukan.

Kisah Lintang di tengah perjuangan hidup dalam kemiskinan, pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, menorehkan kesadaran akan pentingnya membaca. Pesannya, “Belajar adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberikan kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menentang angin setiap hari. Jika berhadapan dengan buku, ia akan terisap oleh kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan oleh para cerdik cendikia.”

Membaca Buku: Sumber Kekuatan Menulis

Buku adalah sumber ilmu dan amunisi kreativitas dalam kepala kita, yang bisa dijadikan senjata untuk membuat sebuah tulisan kaya makna. Seorang profesional pemasaran yang kaya akan pengalaman penjualan dan pemasaran, seperti pengalaman dalam penyusunan harga, kegiatan promosi, distribusi produk, maupun manajemen merek, dapat membagi pengalamannya kepada orang lain lewat tulisan. Kekayaan pengalaman tersebut akan lebih “kokoh” jika didukung referensi buku-buku pemasaran yang ia pelajari. Pemasar ini, setidaknya, pernah membaca buku-buku karya Philp Kotler, Rhenald Kasali, ataupun Hermawan Kartajaya. Pegiat sastra dan penulis produktif sebesar Helvy Tiana Rosa, setidaknya juga pernah membaca buku-buku yang ditulis Gorys Keraf, Ismail Marahimin, ataupun Jakob Sumardjo. Buku-buku yang kita baca memberikan kekuatan dan tenaga dalam untuk mendukung proses penulisan.

Sebagai sumber ilmu, banyak hal yang dapat digali dari sebuah buku. Tetapi, tidak banyak dari kita yang memanfaatkannya sebagai “jembatan” untuk menuju dunia yang lebih baik, menjadi manusia pembelajar. Dengan membaca, pengetahuan seseorang akan bertambah. Untuk itu, bacalah! Tapi, tidak banyak dari kita yang menyempatkan diri untuk membaca! Alasan klasik yang sering muncul adalah sibuk, banyak pekerjaan, tidak ada waktu, atau capek. Padahal, dengan membaca kita akan menajamkan pikiran agar mampu memahami banyak hal dalam kehidupan.

Dengan membaca, ilmu kita bertambah. Ilmu adalah harta tidak berwujud (intangible asset). Kita tidak pernah khawatir ilmu akan dicuri, dipinjam, dan digunakan orang lain. Kita tidak akan pernah “marah” jika tulisan atau pesan bijak kita dikutip dan digunakan orang lain. Bahkan, kita akan bangga jika kita melihat orang lain memanfaatkan ilmu kita.Tidak seperti harta berbentuk fisik lainnya, rumah, mobil, tanah, emas, intan berlian, suatu saat bisa dengan mudah hilang dan meninggalkan kita begitu saja. Jika dipinjam dan dipakai orang lain pun, barang itu jarang bisa kembali, bahkan tidak pernah kembali lagi. Tetapi, ilmu yang bermanfaat akan sangat berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Ketika “harta” ilmu itu sudah bertambah dan menggunung, saatnyalah kita “bersedekah” ilmu melalui tulisan

Membaca buku-buku, baik buku dalam arti sesungguhnya—buku pelajaran—maupun buku “kehidupan” yang didapat dari pelajaran “alam”, dapat memercikkan gagasan, ide, dan bahan untuk bekal menulis.

Kita dapat mendulang ilmu lewat membaca dan menuai hasil dari pesan yang bisa diserap. Dengan demikian, penulis memiliki banyak bahan yang dapat diracik dari buku yang dibaca, untuk kemudian dituangkan kembali ke dalam tulisan. Setidaknya, nanti di tengah atau akhir tulisan, Anda akan memperkaya kembali tulisan yang sedang dikerjakan, dengan membaca buku-buku referensi yang sesuai.

Seperti yang kulakukan saat menulis buku ini, setidaknya telah puluhan buku yang kubaca agar dapat memperdalam bobot buku yang kutulis ini.

 

Learn as much by writing as by reading.

~ Lord Acton