Building Personal Brand Equity

Hidup tidak serta merta untuk tujuan akhir finansial.  Kesungguhan membangun reputasi akan menarik keuntungan sebagai hasilnya.”  ~Antoni Ludfi Arifin

 

Warisan leluhur merupakan potensi yang harus dijaga kelestariannya.  Warisan leluhur seperti aset berbentuk fisik (tangible asset): sumber daya alam—memiliki potensi keterbatasan. Jika tidak dikelola secara arif, maka ia akan musnah.

Sebaliknya, warisan leluhur yang bersifat tak berwujud (intangible): kesenian, kebudayaan, maupun nilai-nilai luhur yang pernah “dilahirkan” oleh leluhur kita juga memiliki potensi serupa: musnah, jika tidak dicermati, dilestarikan, bahkan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di zaman yang sudah kompleks (sophisticated) ini.

Warisan budaya dalam bentuk peribahasa (proverbs) merupakan salah satu bentuk gaya bahasa berupa ungkapan atau kiasan dalam bentuk kelompok kata (frasa) atau kalimat ringkas dan padat yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.  Peribahasa ini banyak digunakan  dalam kehidupan keseharian orangtua kita di masa lalu.

Penyampaian sebuah “pesan” yang diungkapkan dengan indah dan santun.  Nasihat leluhur ini dapat dijadikan fasafah pedoman hidup.  Di zaman yang modern ini,  ia tak lekang oleh waktu dan tetap dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang multikompleks ini.

Ilmu terus berkembang, seiring berkembangnya teknologi dan pengetahuan manusia.  Di dalam keilmuan manajemen terkini, banyak teori-teori muncul. Baik yang ditarik dari sebuah penelitian maupun berdasarkan kejadian pengalaman-pengalaman “sukses”  yang berulang-ulang.

Sebagian besar kita, anak-anak muda Indonesia, telah lupa akan warisan budaya lokal, peribahasa, berupa local wisdom. Contohnya saja, ketika menimba ilmu, kita banyak terpaku pada buku-buku pelajaran formal: textbooks, yang sebagian besar pelajaran itu muncul bukan dari akar budaya lokal.  Di sini, tidak berarti kita harus antipati terhadap pengetahuan luar, namun “mengawinkannya” dengan warisan budaya lokal akan membuat pengetahuan itu menjadi lebih kaya dan cocok (applicable) dengan “wajah” sendiri.

Sebuah peribahasa Minang, “Alam takambang jadi guru” merupakan salah satu pelajaran berharga yang bisa kita petik. Bahwa, belajar itu tidak harus di sekolah formal lalu berhenti ketika telah memperoleh gelar sarjana.  Di samping belajar formal dari buku-buku pelajaran, kita juga belajar di universitas kehidupan, yaitu belajar dari “buku” kehidupan: pengalaman diri dan orang lain, serta seluruh kejadian alam, yang bisa kita tarik hikmahnya.

Mengisi diri agar tumbuh berwajah bestari tidak hanya di kelas-kelas formal. Kehidupan pun dapat menjadi guru yang baik untuk memetik pelajaran yang terkadung dalam setiap detik kejadian.

Ilmu yang dipetik dari guru kehidupan (pendidikan informal), juga kelas-kelas pendidikan dan buku pelajaran (pendidikan formal) menjadi bekal kehidupan kelak. Inilah yang menjaga kita menjadi rupa bestari itu.  Namun, jika hanya mengandalkan kualitas keilmuan yang dikumpulkan dari pendidikan formal saja, itu tidaklah cukup.  Ia harus juga dipoles lewat elemen lain sehingga indah wajah bestari menjadi lebih tampak cantik lagi.

Pada buku ini, kami mencoba mengangkat warisan falsafah lokal berupa pesan bijak dalam bentuk peribahasa, yang masih relevan di dalam kehidupan modern ini.

Sebenarnya, ketika ditelusuri, akan begitu banyak ditemukan pesan bijak nenek moyang kita, jika dilihat dari Aceh hingga Papua, kita dapat menemukan begitu banyak pesan kebaikan itu.   Namun, dalam buku ini, tidak semua local wisdom kami angkat ke permukaan.

Sesuai judul buku ini, Building Personal Brand Equity, maka kami menyajikan tujuh elemen  yang terkait dengan cara bagaimana meningkatkan ekuitas merek diri Anda, yang jika kami amati, ia juga beranjak dari pesan-pesan leluhur kita.

Satitiak jadikan lawik”—setitik jadikan lautan; semoga, ketika buku ini dibaca, maka sedikit falsafah leluhur yang menguatkan elemen pembangun merek diri ini mampu memberikan penguatan diri agar kita menjadi insan yang terbaik.  Diri kita mampu berkontribusi bagi pengembangan Indonesia Hebat!, sesuai dengan peran masing-masing.

Building Personal Brand Equity adalah hal penting agar kita mampu sukses dan eksis di kehidupan.  Sukses keluarga, sukses karier, sukses finansial, sukses persahabatan, ataupun selamat hidup di dunia dan akhirat, jelas membutuhkan cara.

Kami mengangkat tujuh elemen peningkatan merek diri, yaitu melalui peningkatkan kualitas personal (personal quality), kemampuan melayani (serviceability), memberikan janji yang ditepati, menawarkan keunikan (differentiation), memberikan kejujuran (honestly), dapat dipercaya dan kredible (trust and credibility), serta harga diri atau kebanggaan diri (price/proud). Elemen inilah yang menjadikan wajah bestari menjadi cantik rupawan, karena dipoles tidak hanya dengan  ilmu, tetapi juga elok laku.

Ketujuh elemen di atas dikuatkan oleh falsafah lokal Indonesia, di mana pesan-pesan leluhur yang ada—dari Aceh hingga Papua—ini juga bertujuan  untuk meningkatkan ekuitas merek diri agar menjadi powerfull.  Ia merupakan pesan bijak tetua dan leluhur kita, yang nyaris terpendam oleh hingar-bingar kehidupan modern.

Enam dari tujuh elemen peningkatan kualitas merek ini kami adopsi dari sebuah jurnal penelitian dari Copenhagen Business School, bahwa untuk meningkatkan hubungan merek dan pelanggan diperlukan upaya mengelola elemen-elemen peningkatan hubungan tersebut yaitu: kualitas produk (product quality) yang kami ubah menjadi kualitas personal, keunikan, kualitas layanan (service quality) yang kami jadikan kemampuan melayani, janji, kepercayaan dan kredibilitas, serta harga diri/kebangaan diri; ditambah satu tawaran kami bahwa dalam hidup ini agar kita mendapat “tempat” di hati orang lain, maka diperlukannya sebuah kejujuran agar ekuitas merek diri kita tetap terjaga di hati orang lain.

Dari ketujuh elemen tersebut, kami mengaitkannya dengan pesan para leluhur negeri ini, yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, agar ia tetap tumbuh di jiwa-jiwa muda anak negeri.

Falsafah Jawa, “Sing becik ketitik, sing olo ketoro”—yang baik akan terbukti, yang buruk akan kelihatan; sebuah anjuran agar siapa pun tidak takut untuk berbuat baik, meskipun awalnya belum kelihatan, pada saatnya akan menemukan makna dan dihargai.  Begitupun, perbuatan buruk, sebaik-baiknya kita menutupi keburukan itu, pada akhirnya akan ketahuan juga.  Karenanya, tetaplah berbuat baik!

Semoga pesan warisan lokal ini tetap membumi di hati para anak muda Indonesia, dan menjadikannya falsafah hidup untuk meningkatkan indentitas diri, jati diri, dan merek personal sehingga kuat dalam mengahadapi persaingan di zaman modern ini.

Sakapa jadikan gunung”—sekepal jadikan gunung.  Semoga diri yang “kecil” ini, ketika kita telah mengelola merek diri dengan baik: memperbaiki kualitas diri, mau membantu orang lain, mampu menepati janji yang sudah disampaikan, memberikan keunikan, menjaga kepercayaan orang lain dengan baik; yang pada akhirnya kita mampu memberikan kontribusi diri bagi kebermanfaatan orang lain dan semesta alam.

 

Tabik pun nabik tabik.

Antoni Ludfi Arifin

Sari Rahma Yulianthi