Daoed JOESOEF: Sebuah Pengantar

Ini adalah sebuah buku yang berisi pemikiran unik, digubah oleh sepasang suami-istri intelektual, yaitu Antoni Ludfi Arifin dan Sari Rahma Yulianthi. Keunikan karya tulis ini adalah menggabungkan secara komparatif renungan kearifan nenek-moyang kita—berupa pepatah, bukti keberadaan local genius dari berbagai penjuru tanah air—dengan penalaran yang memandu kegiatan bisnis modern yang maunya serba rasional.

Negeri kita memang ‘kaya’ dengan pepatah-petitih yang berbentuk pantun, gurindam, bernilai kesusastraan yang pantas dibanggakan. Penghayatan dan penguasaannya dahulu dipakai sebagai pertanda ketinggian martabat human dan kebangsaawanan budi dari manusia yang menguasainya dan komunitas yang menghanyatinya.

Tempo doeloe ada pemeo:  “Adat orang berbangsa, datang tampak muka, pergi tampak punggung, kata berjawab, gayung bersambut”.  Setiap pelaksanaan hajatan/pesta penting—lamaran, kedatangan mempelai, penunaian nazar, syukuran—selalu dimulai dengan ucapan-ucapan pepatah yang dikemas berupa pantun.  Begitu penting dianggap preservasi karakter gemeischaft ini hingga di zaman kolonial doeloe, pepatah dan berbalas pantun Melayu diajarkan tidak hanya di sekolah rakyat berbahasa Melayu, tetapi juga di sekolah pribumi yang berbahasa pengantar Belanda (Hollandsch-Inlandsche School) di Sumatera, bahkan dipertandingkan di antara sesama sekolah rakyat setempat.

Terkait erat dengan kebiasaan cara beradab seperti ini, ada lagi simbol-simbol peradaban serupa lain, yaitu keberadaan pohon pinang di halaman depan rumah tokoh-tokoh pemimpin seperti kepala adat, kepala suku, penghulu (kepala/lurah kampung).  Pohon pinang yang tegak lurus samampai ini tidak hanya demi keasrian pemandangan, tetapi karena ia melambangkan kelurusan budi, kesederhanaan watak, dan kejujuran diri yang empunya rumah/halaman. Juga membuktikan ketersediaan pinang bagi keperluan seremonial. Biasanya, secara berbalas pantun yang mengandung pepatah-petitih didahului dengan memamah sirih pinang, bahkan ketika menerima tamu sehari-hari sebagai tanda keakraban familial dan keikhlasan pergaulan.

Kini kebiasaan serupa ini sudah dilupakan begitu saja di dalam suasana kehidupan kontemporer dengan berbagai alasan yang dianggap “masuk di akal”.  Kehidupan dan pendidikan modern cenderung membuat masyarakat kontemporer menjadi suatu “throw away society”, membuang dan melupakan begitu saja segala sesuatu yang dianggap “kuno”, termasuk pemahaman pepatah dan perbuatan berbalas pantun/gurindam.

Maka dengan karya tulisnya yang Anda baca ini, pasangan muda intelektual Antoni Ludfi Arifin dan Sari Rahma Yulianthi, merupakan suatu usaha “membangkitkan batang terendam” yang pantas disyukuri.  Semoga akan menyusul tulisan-tulisan sejenis yang memungkinkan masyarakat kita, yang cenderung berubah dari “gemeinschaft” ke gesellschaft, bisa mengalami “renaissance terpilih”, tanpa berniat mendorong balik-mundur perjalanan waktu, tetap melangkah terus ke depan sesuai dengan panggilan zaman, namun tercerahkan (Aufklärung) begitu rupa sehingga tidak meluncur menjadi pergaulan hidup yang tanpa nilai-nilai human yang tetap terpuji. Maju terus, tetapi tetap dalam bingkai kebudayaan.  Ngeli mung ora keli!

Buku ini hadir tidak tanpa kekurangan.  Tak ada gading yang tak retak.  Walaupun begitu ia tetap pantas dibaca dan direnungi isinya.  Ya, ini buku baru, ini baru buku.

Selamat menyimak dan mengkaji dengan pikiran terbuka!

Daoed JOESOEF

Alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne