Mengembangkan Wacana Tulisan

Planning to write is not writing. Outlining, researching, talking to people about what you’re doing, none of that is writing. Writing is writing.”

~E. L. Doctorow

 

Buku adalah jendela ilmu. Jendela ilmu itu harus dibuka agar ruang-ruang kehidupan menjadi lebih segar dengan “udara” yang masuk. Membuka jendela juga menyebabkan kita dapat melihat terangnya dunia luar. Ini karena di dalam kadang sudah terasa pengap, butuh oksigen dan cahaya untuk menyegarkan dan menerangi. Itulah buku dan membaca, seperti udara dan cahaya bagi kehidupan. Maka bacalah!

Buku adalah sumber ilmu dan pengetahuan dan membaca adalah cara kita menggali pengetahuan tersebut. Dengan membaca kita memperluas cakrawala hidup dan memperkaya pemikiran; karena tanpa membaca, pikiran akan “keruh”, sama seperti air danau, yang airnya tidak bersumber dari sungai-sungai jernih. Lama kelamaan, airnya akan keruh karena tak tergantikan.

Bak air kolam yang tidak pernah dibersihkan dan diganti airnya akan membuat gatal-gatal orang yang berenang di dalamnya. Diperlukan “pemurnian” agar air kolam tetap “menyehatkan” para perenang. Serupa juga, tanpa membaca pikiran kita akan tumpul. Pepatah lama baik menjadi renungan: “lebih baik jadi kutu buku daripada mati kutu.”

Banyak orang menyebutkan akal dan belajar itu seperti raga dan jiwa. Tanpa raga, jiwa hanyalah udara hampa. Sebaliknya, tanpa jiwa, raga hanyalah kerangka tanpa makna. Jika boleh, aku mengibaratkan membaca dan menulis sebagai jiwa dan raga, saling melengkapi.Raga tanpa jiwa adalah mati. Orang menyebutnya “mayat hidup”. Jiwa tanpa raga itu namanya kosong. Di sinilah pentingnya membaca dan menulis, saling melengkapi.

Membaca secara harfiah berarti melihat serta memahami isi tulisan. Membaca juga bisa berarti konotatif, yaitu melihat dan memahami kejadian-kejadian hidup, baik dan buruk, dan memetik makna dari kejadian itu untuk kehidupan diri sendiri dan orang lain. Hanya membaca saja tidaklah lengkap karena semata mencerahkan “jiwa” diri sendiri. Jiwa itu haruslah ditambah raga agar bisa hidup berarti. Untuk itu, pengetahuan yang dimiliki haruslah dibagi kepada orang lain lewat tulisan.

Nutrisi menulis itu dari membaca. Dengan banyak membaca berarti Anda memiliki banyak bahan untuk menulis. Bacaan itu bukan hanya bersumber dari buku-buku, tetapi dapat juga dari “buku-buku kehidupan”, yang Tuhan perlihatkan melalui setiap kejadian.

Begitu banyak buku kehidupan yang dapat dijadikan sumber inspirasi dalam tulisan. Ibarat engkau gunakan seluruh pepohonan untuk dijadikan pensil dan pena, lalu lautan sebagai tinta, keagungan Tuhan tidak akan habis untuk dijadikan bahan dan ide menulis. Itulah kekuatan sebuah “buku” sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi.

Agar ide yang ada di kepala dapat dengan mudah dituangkan ke dalam tulisan, ada beberapa cara yang bisa digunakan. Caranya, yaitu menuliskannya dengan memaparkan informasi (eksposisi), menggambarkan keadaan (deskripsi), menceritakan (narasi), memberikan pendapat atau opini (argumentasi), atau mengimbau (persuasi). Itu semua tinggal penulis gunakan untuk mengembangkan gagasan ke dalam pola-pola wacana.

Secara terperinci, Ismail Marahimin, dalam buku Menulis secara Populer, menjelaskan kelima corak wacana tersebut.

  1. Eksposisi biasa juga disebut pemaparan, yakni salah satu bentuk karangan yang berusaha menerangkan, menguraikan, atau menganalisis suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan dan pandangan seseorang. Dengan corak pemaparan ini, penulis berusaha menjelaskan kejadian atau masalah secara analisis dan terperinci, yaitu memberikan informasi dan memperluas pengetahuan pembacanya. Untuk meneguhkan penjelasan, penulis sering kali memaparkan data dalam bentuk grafik, diagram, tabel, atau bagan. Untuk mengembangkan tulisan, pemaparan dalam corak eksposisi dapat ditulis dalam bentuk uraian proses, tahapan-tahapan, atau cara kerja.
  2. Deskripsi adalah corak tulisan dengan penggambaran suatu benda, tempat, suasana, atau keadaan. Dengan deskripsi, seorang penulis mengharapkan pembacanya dapat ”melihat” apa yang dilihatnya, dapat ”mendengar” apa yang didengarnya, ”merasakan” apa yang dirasakannya, serta sampai pada ”kesimpulan” yang sama dengannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupakan hasil observasi melalui pancaindra, yang disampaikan dengan kata-kata. Tujuan penulisan deskripsi ini adalah agar pembaca dapat merasakan kesan sesuai dengan pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulis. Dengan begitu, seakan-akan pembaca terhanyut dalam tulisan tersebut: melihat, merasakan, dan mengalami sendiri objek yang dideskripsikan penulis.
  3. Narasi atau kisahan merupakan corak tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Narasi dimaksudkan memberi tahu pembaca tentang yang telah diketahui atau yang dialami Narasi lebih menekankan pada dimensi waktu dan adanya konflik. Dalam corak penceritaan ini, penulis menuliskan fakta, misalnya tulisan biografi/riwayat seseorang, autobiografi/riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri, atau pengalaman. Penceritaan dapat juga dilakukan dengan menulis kisah khayalan/fiksi atau rekaan, seperti pada novel atau cerita pendek.
  4. Argumentasi merupakan corak tulisan yang bertujuan membuktikan pendapat penulis. Tujuannya adalah meyakinkan atau memengaruhi pembaca agar menerima pendapat Cara meyakinkan pembaca itu dapat dilakukan dengan menyajikan data, bukti, atau penalaran. Corak argumentasi dapat juga berisi tanggapan atau sanggahan terhadap suatu pendapat dengan memaparkan alasan-alasan yang rasional dan logis.
  5. Persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya ajak ataupun berdaya Tujuannya adalah membangkitkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti imbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan penulis. Dengan kata lain, persuasi berurusan dengan masalah memengaruhi orang lain lewat tulisan.

 

Dengan kelima corak wacana tulisan ini, seorang penulis dapat dengan mudah menuangkan ide, gagasan, saran, data, fakta, atau cerita ke dalam corak-corak yang sesuai. Dengan demikian, kata-kata yang disusun dapat dengan cepat mengalir menjadi tulisan yang enak, renyah, dan mudah dipahami.