Blocking Time: Just Nulis!

“I didn’t have time to write a short letter, so I wrote a long one instead.”

~Mark Twain

 

Jika Anda pernah menempuh studi di perguruan tinggi, pastinya pernah mengambil mata kuliah dasar umum bahasa Indonesia. Buku yang menjadi pegangan satu di antaranya adalah Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa karangan Gorys Keraf. Karya tulis ini merupakan buku wajib kala itu.

Bayangkan jika Dr. Gorys Keraf waktu itu membagi ilmu hanya dengan berkomunikasi dalam bahasa lisan: ceramah dan presentasi saja, mungkin ceritanya akan lain. Ilmu kebahasaan yang beliau sampaikan kala itu mungkin telah berakhir di masanya saja. Namun tidak, sampai detik ini, buku-bukunya masih dijadikan daftar bacaan dan referensi bagi mahasiswa di perguruan tinggi.

Itulah hasil upaya Dr. Gorys Keraf untuk menginvestasikan waktunya, melakukan blocking time untuk menulis buku KOMPOSISI.

Bahasa tulisan adalah pencerminan kembali bahasa lisan. Penulis ibaratnya mendulang kata-kata, namun dengan pena dan kertas, dan pastinya mendokumentasikannya dalam jangka waktu lama. Hebatnya, investasi waktu untuk menulis yang sesaat akan bermanfaat berabad-abad.

Contoh buku yang sudah berusia lebih dari seratus tahun adalah karya Helen Keller berjudul The Story of My Life, diterbitkan pertama kali pada 1903, merupakan buku autobiografi (kisah hidup yang ditulis tokohnya sendiri), tentang kisah hidup Hellen yang mengharu biru untuk berjuang bangkit dari “ketidakberdayaan” fisik. Helen Keller adalah perempuan kelahiran Tuscumbia, Alabama, 27 Juni 1880. Sewaktu bayi Helen terlahir normal, seperti kebanyakan bayi lainnya. Pada Februari 1882 saat berusia 19 bulan, ia diserang penyakit parah yang menyebabkannya buta dan tuli. Mulai 3 Maret 1887 di usia 7 tahun, seorang guru yang baik dan penyabar, Anne Sullivan, mulai mengajarinya. Anne mengajarkan Helen tentang cara membaca huruf braille dan “mendengarkan dengan perasaan.” Keadaan Helen yang buta dan tuli menyebabkannya sangat emosional. Ia ingin dimengerti. Anne tidak hanya mengajarkannya membaca huruf braille, tetapi juga berkomunikasi dengan perasaan—kesopanan, kepatuhan, dan cinta kasih. Keinginan Helen untuk belajar dan kesabaran Anne dalam mengajari Helen membuahkan hasil, tidak ada pikiran dan perasaan yang tidak dapat disampaikan Helen. Pada usia 20 tahun di tahun 1900 dengan dibantu Anne, Helen masuk perguruan tinggi dan berhasil meraih gelar Bachelor of Arts dari Radcliffe College dengan predikat sangat memuaskan (cum laude), pada 24 Juni 1904. Di Kemudian hari, Helen Keller menjadi penulis terkenal dan sumber inspirasi bagi orang-orang yang mengalami nasib sepertinya. Karya-karya lain Helen Keller yang terkenal di antaranya Teacher: Anne Sullivan Macy (1955) dan The Miracle Worker (1959). Bukankah karya Helen Keller ini bermanfaat dan menginspirasi jutaan orang untuk bangkit dari ketidakberdayaan?

Ibarat pesan seorang sahabat: “Jika kau meninggalkan ilmu/buku, setidaknya engkau akan dikenang lama.” Di sanalah nilai sebuah “karya” yang aku sebut juga karya abadi dan akan menjadi pipa-pipa yang setiap saat mengalirkan air jika terus dibaca.

Buku lain dalam bentuk roman, Azab dan Sengsara, sastra klasik adiluhung Indonesia, usianya menginjak sembilan dasawarsa lebih. Buku ini adalah karya Merari Siregar, sastrawan kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, 13 Juli 1896. Ia menulis roman pertama Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1920, di usia 24 tahun. Roman ini menceritakan hal ihwal kawin paksa dalam adat Minangkabau. Dalam pengantar buku ini, penulis menyampaikan: “Saya mengarang cerita ini, dengan maksud menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah-tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang yang berlaki-istri. Harap saya diperhatikan pembaca.” Roman sastra klasik ini merupakan karya yang saat ini masih dibaca banyak orang. Pesan Taufiq Ismail dalam pengantar buku ini: “Indonesia beruntung memiliki penulis-penulis yang mengabadikan suara hati bangsa di pertengahan abad ke-20 yang lalu. Dengan membaca karya-karya pusaka mereka itu, kita jadi lebih mengenal panorama persoalan di negeri kita yang disajikan sebagai karya literer, mengetahui pertumbuhan kita sebagai manusia Indonesia dan suara hati bangsa, dan melengkapi pandangan kita ke masa hadapan negeri kita.” Merari Siregar telah menginvestasikan waktu, melakukan blocking time untuk menulis sehingga terlahir karya tulis yang mencerahkan.

Menulis sebuah buku: motivasi, inspirasi, buku pelajaran, bahkan novel atau cerpen sekalipun, tidak dimaksudkan mengajari cara melakukan sesuatu, berdakwah, mengajari hal tertentu, ataupun mendongeng. Nilai terpenting sebuah buku: setidaknya merupakan goresan-goresan kata yang mungkin bermanfaat untuk melihat bahwa di kepala kita juga terdapat suatu hal yang berhak diketahui orang lain. Untuk itu, beri tahulah apa yang ada dalam pikiranmu, tidak hanya melalui lisanmu, tetapi juga dari tulisanmu sehingga banyak orang memetik manfaatnya.

Sebagai pekerja profesional, aku, seperti juga kalian, memang penat dan sibuk sekali dengan soal-soal kerja seharian. Namun, urusan-urusan kerja tersebut, yang sudah dikerjakan tahunan, bahkan puluhan tahun, sebagai staf penjualankah, manajer pemasarankah, manajer sumber daya manusiakah, guru atau dosenkah, pedagang atau pengusahakah; pastinya telah dilakoni sampai hari ini. Kuyakin hal ini menyebabkan kita mengetahui bidang-bidang tersebut secara rigid, lengkap, dan sangat mendalam. Bukankah orang lain perlu tahu cara-cara yang telah kita lakukan sehingga mencapai keberhasilan hari ini? Cara yang baik mungkin dapat dilakukan untuk berbagi kepada orang lain adalah dengan tulisan. Oleh karena itu, mulailah menulis.

Pengalamanku, untuk menulis sebuah buku hanya dibutuhkan kebulatan tekad untuk melakukan blocking time. Investasikan waktu untuk mencurahkan ide di kepala ke dalam tulisan.

Jika kita amati rata-rata sebuah tulisan artikel yang dimuat pada sebuah majalah, surat kabar, ataupun artikel pada buku-buku bacaan populer; umumnya terdiri dari 700 sampai 1.500 kata per artikel. Jika kita berkomitmen, katakanlah, ingin menulis sebuah artikel dengan panjang 1.500 kata dan akan diselesaikan dalam waktu tiga jam dalam seminggu, berarti kita menulis 500 kata setiap jamnya. Apakah ini hal yang sulit dan menyita waktu? Seharusnya tidak!

Ambil contoh sebuah buku motivasi “ringan” atau buku pengembangan diri. Rata-rata buku tersebut terdiri dari 15–20 judul artikel. Berarti, jika kita meneguhkan hati untuk membuat satu artikel per minggu, setidaknya untuk menyelesaikan satu buku diperlukan investasi waktu berkisar 4–5 bulan. Bukankah ini perkara yang mudah?

Bandingkan saja dengan bahasa lisan yang kita miliki. Terkadang kita sering “boros” menggunakannya. Nah, keborosan bahasa lisan itu, kalau sedikit saja kita investasikan kembali ke bahasa tulisan, setidaknya akan ada sebuah karya tulis yang bermanfaat jangka panjang, bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

I am a writer because writing is the thing I do best.
~ Flannery O’Connor