Brand of You

Pulau Pandan jauh di tengah

Di balik Pulau Angsa Dua.

Hancur badan dikandung tanah,

Guna (budi) baik terkenang jua.

(Pantun)

 

Seperti halnya sebuah merek produk, nama diri juga merupakan merek yang harus dijaga nilainya. Jika merek diri buruk, hal apa yang dapat dikenang. Bahkan, semakin lama memburuk, nama akan hancur di kandung badan.

Oleh pemilik merek, sebuah produk dijaga nilai/ekuitas mereknya.  Berbagai upaya pemasaran dilakukan, mulai dari menjaga dan terus meningkatkan kualitas produk, melakukan promosi periklanan, hingga memberikan layanan terbaik produk bagi konsumennya; tujuannya agar merek tersebut tetap diingat, dibeli, dan tetap menjadi pilihan konsumen di tengah gempuran produk sejenis yang berharap mendapat “tempat” di pikiran (mind), hati (heart), dan “dompet” (pocket) konsumen.

Begitupun nama diri, ia harus juga dijaga nilai atau ekuitasnya.  Menjaga ekuitas nama diri, tidaklah semata menjaga nilai merek dengan cara gencar beriklan saja.  Namun, nama itu harus ditanamkan elemen-elemen penting yang menguatkan reputasi sebuah nama diri.

Ketika untuk pertama kalinya seorang bayi menghirup udara, terlahir di dunia ini, kedua orangtuanya segera memberikan nama pada anak yang terlahir tersebut.  Bahkan, tidak sedikit yang telah menyiapkan nama jauh hari sebelum menjelang kelahiran.

Begitupun produk baru yang “dilahirkan” perusahaan. Produk tersebut diberi nama, diluncurkan lewat program pemasaran, dipromosikan, dan dijaga ekuitasnya dengan program-program pemasaran.

Orangtua berharap, dari nama yang diberikan, kelak ketika besar nanti, si anak dapat sesuai dengan apa yang diinginkan, dicita-citakan, dan diimpikan orangtua: menjadi anak yang berguna bagi keluarga, bangsa, maupun agama—mengharumkan keluarga.

Karenanya, tak jarang nama-nama indah diberikan.  Karena nama itu adalah doa orangtua kepada anaknya.

Sama seperti pemilik merek produk, pemegang  merek pun berharap agar merek yang dilahirkan mampu tumbuh dan berkembang di kategorinya; mampu memiliki kontribusi (market share) yang besar pada total pasar (market size), karenanya di awal pemberian nama, pemilik produk tidak sedikit yang melakukan riset merek.  Riset dapat berupa pencarian (searching), apakah merek ini memiliki kesamaan nama dengan merek lain pada kelas yang sama, apakah nama ini berpotensi untuk dapat dikembangkan (leverage) melalui perluasan merek (brand extention), perluasan kategori (line extention).

Baik nama produk yang dikelola perusahaan, maupun nama diri yang diberikan orangtua kepada anaknya, haruslah dijaga oleh pemilik merek/nama.  Agar nama ini memiliki nilai: reputasi.  Sehingga, ketika “berdekatan” dengan merek/nama tersebut, konsumen atau orang lain yakin dan nyaman untuk membangun hubungan berkelanjutan (sustainable relationship).

Sustainable relationship yang terbina pada sebuah merek produk dengan konsumennya adalah lewat pembelian berulang (repeat buying), merekomendasikan (recommendation) produk kepada orang lain, serta menjalin ikatan yang kuat (engagement) melalui program-program keanggotaan (memberships program) yang dibina oleh perusahaan.

Bagaimana dengan merek diri?  Seperti halnya merek produk, nama diri ketika sudah memiliki reputasi baik dan orang lain percaya terhadap nama berikut kualitas diri yang “dikandung” pada nama tersebut maka akan terjadi long term sustainable relationship; berupa promosi karier bagi karyawan; peningkatan finasial/proyek/bisnis bagi pengusaha; dan engagement berupa hubungan persahabatan yang erat.

Pesan dari daerah Jawa, ”Sapa nandur bakal ngundhuh” menasihati bahwa jika kita melakukan perbuatan, baik ataupun buruk, maka  keduanya akan dibalas.  Kebaikan akan dibalas kebaikan, begitupun perbuatan buruk akan mendapatkan keburukan.  Karenanya menanam perbuatan baik dalam menjaga reputasi diri adalah hal yang sangat penting, karena akhirnya kita akan menuai nama baik dan kebaikan juga.

Shakespeare pernah berkata,  “Apalah artinya sebuah nama, andaikata sebuah bunga mawar dengan nama lain, ia tetap harum?” Jadi, benarkah nama itu penting? Ya, Shakespeare benar, nama tanpa adanya sebuah reputasi, maka  ia sesungguhnya hanya akan menjadi sebutan atau panggilan  belaka.  Nama tidak akan berkesan apa-apa. Itulah esensi reputasi yang digugat oleh Shakespeare.  “Keaslian” atau keorisinalan diri, yang harusnya memuat sejumlah nilai, yang kami ambil dari nilai-nilai yang menguatkan personal brand. 

Nilai yang menguatkan personal brand ini diperkuat oleh falsafah lokal, yang sudah ada sejak lama di negeri ini.  Falsafah ini, jika diteladani, juga dapat meningkatkan ekuitas merek diri Anda.

Merek produk dapat dilindungi oleh pendaftaran merek, sehingga membatasi perusahaan perusahaan lain untuk menggunakan nama merek dengan nama sama di kelas barang atau jasa yang sama. Namun, berbeda dengan nama diri personal kita, ketika dicari kata Muhammad pada search engine Google, misalnya. Begitu banyak halaman yang memunculkan nama Muhammad tersebut. Berarti, setiap orang bisa bebas menggunakan nama tersebut,  mereka berharap dengan nama itu, bisa memiliki karakteristik yang sama seperti Rasullulah Saw.: Al Amin (dapat dipercaya), misalnya.

Tidak sedikit kita memberikan nama-nama yang baik  bagi anaknya. Baik merujuk pada arti sebuah nama maupun merujuk pada pemilik nama lain, dengan tujuan si pemberi nama berharap—karier, ketenaran, kesukesan, dll.—anaknya seperti seseorang yang namanya digunakan.

Pemberian nama diri tidaklah berakhir dengan melekatkan/memberikan nama begitu saja, seperti harapan pemilik nama tersebut sesuai dengan “arti” nama atau kelak nanti, nasibnya, sesuai dengan nama orang lain yang dilekatkan. Tidak!

Sebuah nama diri haruslah diisi serangkai elemen pembangun diri.  Tujuh elemen yang memperkuat merek diri ini bukanlah temuan atau hal baru. Namun, kami petik dari sebuah jurnal ilmiah karya dua ilmuan asal Denmark, Anne Martesen dan Lars Grønhol dari Copenhagen Business School.  Lalu, kami padukan dengan falsafah leluhur kita, di mana local wisdom ini telah ada dan lebih tua dari usia Anne Martesen, Lars Grondhol, Philp Kotler, bahkan Shakespaere tersebut, namun falsafah lokal ini lupa untuk kita petik hikmahnya untuk pengembangan diri.

Di dalam persaingan pasar, sebuah merek dikatakan berkinerja (brand performance); ketika merek tersebut mampu memberikan tidak hanya manfaat fungsional produk tetapi juga memberikan manfaat emosional bagi konsumen.  Merek yang kuat (brand strength-leadership) memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pasar dan menjadi kekuatan dominan dalam suatu pangsa pasar yang kuat, sehingga akan mampu mengatur harga, distribusi, dan dapat menahan serbuan persaingan.

Begitupun nama atau merek diri, ia membutuhkan pengelolaan yang baik, agar reputasi diri terjaga nilainya.    Tidak hanya nama yang memilik arti baik, si pemilik nama harus menjaga reputasi diri, agar ia tidak tergerus oleh kealfaan diri dalam meningkatkan kualitas personal.  Belajar dari falsafah Bugis, ”Sadda mappabati’ ada, ada mappabati’ gau, gau’ mappabati’ tau”—bunyi menghasilkan kata, kata menandakan perbuatan, perbuatan menunjukkan manusia. Bahwa, kedudukan manusia lebih ditentukan oleh perbuatan daripada nama yang disandang, ujungnya, kata dan perbuatan akan menentukan derajat nilai seseorang di mata orang lain.

Jadi upaya meningkatkan kualitas atau kapabilitas diri, bukanlah upaya kerja semalam—sim-sala-bimmaka, jadilah seseorang “berisi”.  Sesungguhnya tidak.  Ia memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk menjaga kata dan perbuatan, bahkan usaha untuk meningkatkan kualitas diri tersebut benar-benar berisi.

Pilar Kuat Membangun Merek Diri

Ketika nama diri berikut reputasi di dalamnya sudah begitu kuat  terpersepsi di benak seseorang.  Maka ia akan membentuk asosiasi-asosiasi terhadap nama tersebut dan asosiasi inilah nanti yang akan menguatkan atau melemahkan merek diri.

Menurut David A. Aaker asoasiasi merek adalah segala sesuatu yang “berkaitan” dengan memori kita mengenai sebuah merek.  Ketika disebutkan nama/merek sebuah gerai makanan cepat saji: McDonald’s. Maka, asosiasi apa saja yang muncul dari kata “McDonald’s” tersebut?  Gaya hidup yang meriah, bersih, ramah, ayam goreng, hamburger, dan kentang goreng.

Tautan sebuah merek produk atau nama diri dalam ingatan seseorang ini muncul ketika merek ini mampu memberikan nilai.  Nilai ini bisa positif atau nilai negatif, tergantung upaya pemilik merek atau nama untuk meningkatkan nilai tersebut.

Ketika seorang mendengar nama Muhammad Syafii Antonio,  keseluruhan dari nama diri itu, berikut reputasi diri yang dibangun dari nama tersebut, maka munculah asosiasi: pakar ekonomi syariah atau ekonom Islam.  Sebaliknya, jika kita sebutkan kata “Pakar ekonomi syariah”  maka muncullah nama Muhammad Syafii Antonio.  Ketika kita sebutkan nama Rhenald Kasali, maka asosiasi yang muncul di benak kita adalah Rumah Perubahan, Pakar Perubahan, atau guru besar manajemen.  Ketika disebutkan nama Hermawan Kartajaya, maka muncullah asosiasi di benak kita, “Marketing Guru”.

Begitupun ketika Anda mendengar nama Tukul Arwana, maka akan terbersit di benak kita tentang Tukul sebagai pembawa acara (host) program acara ternama, Bukan Empat Mata, pada salah satu televisi swasta, kata “ndeso”, atau host dengan bayaran termahal.  Reputasi yang dibangun Tukul bukanlah kerja semalam.  Ia membangun fondasi kesuksesannya hari ini dengan cucuran keringat—usaha, kerja keras, konsistensi, kredibilitas, trust, dan setiap elemen yang menguatkan keseksesan itu; lalu upaya itu mengkristal menjadi nilai (value) yang kita berikan berupa “harga”—bayaran pembawa acara termahal, popularitas—yang dinikmatinya saat ini.

 

“Waktu terus, terus berjalan.

Kerisik gugur, gugur ke bumi dan pucuk muda memecah, memecah pula di ujung dahan.

Hhuuhh, alangkah lekasnya waktu berjalan!”

St. Takdir Alisajbana, Layar Terkembang

Waktu begitu cepat berlalu, tanpa nama baik dan reputasi yang melekat di dalamnya, kita akan sirna begitu saja.  Seperti, bait puisi St. Takdir Alisajbana, pada buku Layar Terkembang di atas, waktu terus berjalan, yang tua segera digantikan generasi muda—kerisik (daun tua) gugur, digantikan pucuk muda—alangkah cepat waktu berlalu. Lalu apakah yang kita tinggalkan untuk generasi penerus ini?

Sebuah nama dengan reputasi yang dibangun dan terus dijaga, maka ia takkan lekang oleh waktu. Bahkan hingga si pemilik nama itu telah “pergi” meninggalkan dunia ini.  Hamka, adalah seorang ulama dan sastrawan dengan nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di Manijau Sumatra Barat pada 17 Februari 1908 dan wafat pada 24 Juli 1981.  Label seorang ulama dan sastrawan masih melekat pada beliau hingga hari ini.  Hal itu dikarenakan Hamka membangun reputasi nama dirinya dengan konsisten berdakwah, mengembangkan syiar islam, dan menulis buku.  Ia menjaga ekuitas nama dirinya melalui upaya sungguh-sungguh berdawah dan menulis.

Walaupun “daun muda”, penulis-penulis—baru, bermunculan; namun, karya-karya Hamka tetap dibaca di sekolah-sekolah formal, maupun oleh mereka penikmat sastra.  “Kerisik” itu, Hamka, telah tiada. Namun ia  kini menjadi hara yang menyuburkan sastra Indonesia sepanjang masa.

Begitupun St. Takdir Alisjahbana (STA), Pelopor angkatan Pujangga Baru.  Lahir di Natal Tapanuli Selatan, pada 17 Februari 1908. Banyak karya sastra yang telah dilahirkan oleh beliau, di antaranya sangat populer: Tak Putus Durundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Layar Terkembang (1973), dan Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940).  STA telah memupuk tulisan sejak usia 17 tahun. Ia suka mengarang surat-surat Tani dalam bahasa Belanda.  Hingga kini, harum namanya terus menyebar lewat buku-buku yang ia tulis.  Sejak bekerja sebagai redaktur kepala di Balai Pustaka, ia merintis Gerakan Sastra Baroe  tahun 1933, dengan melibatkan intelektual zaman itu, seperti Armijn Pane dan Amir Hamzah, mereka mendirikan majalah Pujanggga Baru.

STA menempuh pendidikan formal sejak usia 7 tahun. Ketika itu ayahnya menyekolahkan di Hollandsch Inlandsche School di Bengkulu tahun 1915—1921. Setelah lulus ia melanjutkan studinya ke Kweekschool, Bukit Tinggi, Lahat, Muara Enim sejak 1921—1925.  Lalu melanjutkan ke Hogere Kweekschool, Bandung (1925—1928).  Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Hoofdacte Cursus, Jakarta di tahun 1931—1933.  Pada tahun 1937 hingga 1942 ia menempuh pendidikan di Rechtschogeschool, Jakarta. Di Rechtschogeschool, STA mengikuti kuliah-kuliah di Fakultas Sastra Ilmu Bahasa Umum, Filsafat Asia Timur Universiteit van Indonesie, Jakarta (1940—1942).  Ia mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa di tahun 1979 untuk Ilmu Bahasa, dari Universitas Indonesia.

Komitmen beliau untuk mengembangkan kesusastraan tidak hanya dihargai di dalam negeri. Pada tahun 1987 ia kembali dianugrahkan Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Sastra dari Universiti Sains Malaysia.  Nama beliau harum hingga negeri Jiran itu.

St. Takdir Alisjahbana adalah pengarang produktif pada masanya.  Pada 17 Juli 1994, di Jakarta, Ia “berpulang” ke pangkuan Ilahi. Beliau tidak hanya meninggalkan batu nisan; tetapi  puluhan karya-karya beliau di bidang bahasa, sastra, kebudayaan, filsafat, pendidikan, dan seni menjadi epitaf yang akan selalu dibaca sebagai harta karun pemikiran negeri ini.

Sebuah peribahasa Minangkabau: “Hiduik bajaso, mati bapusako.”  Bahwa, hidup di dunia ini haruslah memberikan pelayanan kepada orang lain, meninggalkan karya, dan berfaedah.  Ketika tiada nanti, kita telah meninggalkan “pusaka.”

Apa yang ditinggalkan Hamka dan STA—warisan harta bagi anak-cucu bangsakah? Tidak! Bukan harta benda, melainkan warisan ilmu dalam bentuk karya tulisan buku-buku berkualitas.

Tidak semua pengetahuan yang dimiliki itu dapat bermanfaat bagi orang lain bahkan anak cucu jika tidak diamalkan.  Agar terus mengalir maka ilmu itu harus terus dikembangkan dan diamalkan.  Menanam kebaikan lewat penyebaran ilmu dan kebaikan kelak pengetahuan itu akan bermanfaat.  Sebuah ajaran Jawa, “Darbe kawruh ora ditangkareke, bareng mati tanpa tilas.”—mempunyai pengentahuan, jika tidak dikembangkan dan diamalkan, setelah meninggal tiada bekas.  Karenanya, selalu berbuat baiklah kepada setiap orang.  Menjadi insan penuh kebaikan dengan berusaha membagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain.  Pupuklah ia dengan mengajar dan berbagi. Kelak ide dan pemikiran itu akan berakar dan berkembang, hingga berbuah manfaat.

Sama halnya, falsafah hidup Minangkabau yang lain, “Gajah mati maninggalkan gadieng. Harimau mati maniggalkan  balang.  Manusia mati maninggalkan namo.”  Bahwa, seseorang dalam hidupnya jangan sampai seperti hewan, hanya meninggalkan tulang belulang belaka.  Namun, tinggalkanlah sebuah “nama” baik yang dapat selalu dikenang oleh anak cucu kita yang ditinggalkan, yaitu karya yang dapat dikenang.

Reputasi sebuah merek diri yang baik, dibangun dari pilar-pilar yang menguatkan kapabilitas diri. Hermawan Kartajaya menjadikan nama dirinya diasoasisikan “Marketing Guru” bukanlah pekerjaan yang dilakukannnya semalaman.   Sebuah pepatah Kei, Maluku, mengatakan: “Entub fo tom, ne endir fo tad,”—tinggal sebagai cerita, berdiri sebagai sejarah—yaitu segala perbuatan baik atau buruk akan diingat orang, dan bisa saja terus diingat dan menjadi cerita turun-temurun.  Hermawan Kartajaya memupuk elemen penguat merek dirinya setiap hari. Terus menerus konsisten memupuk dan mengembangkannya, menjadi konsultan, penulis, pembicara, peneliti, di bidang pemasaran.  Bahkan ia sempat berseloroh, “Makan, minum, dan bermimpi pun tentang marketing.”

Ada tujuh elemen atau pilar yang dapat menguatkan merek diri Anda, di antaranya kami bagi ke dalam empat kelompok kapital (capital), yaitu: 1) kelompok modal intelektual (intelectual capital), yaitu kualitas personal dan keunikan; 2) modal emosional (emotional capital) yaitu dapat melayani (servicablity), 3) modal spiritual (spiritual capital) yaitu janji, kejujuran, dan kredibilitas & kepercayaan; serta 4) modal keuangan (financial capital), yaitu harga/kebanggaan.  Keempat modal yang dimiliki ini, jika dikelola dengan baik ketujuh nilai/ekuitas yang ada maka akan meningkatkan kompetensi dan menuju insani yang berkualitas: yaitu kualitas modal insani (human capital) pribadi.

Pertama, Kualitas personal.  Dalam mengembangkan nama diri yang menghadirkan kualitas diri guna membangun sebuah hubungan bernilai antara orang lain dengan diri kita, diperlukan kualitas  diri.  Isi kualitas diri  ini adalah, diri yang terbaik,  yaitu:

  • Personal core productintellectual capital yang harus terus dipupuk hingga menjelang ujung waktu nanti.  Falsafah Bali mengatakan, “Puntul-puntulan besi, yén sangih dadi mangan.”  Ketika kita memahami arti dari petuah Bali tersebut, maka pesan ini menganjurkan kita agar rajin belajar, mengisi diri, supaya dapat mewujudkan cita-cita:  sebodoh-bodohnya orang, jika mau belajar pasti akan menjadi pandai.
  • “Kemasan” penampilan diri. Penampilan ini penting, disamping software yang baik, hardware/casing  atau penampilan juga haruslah menarik. Sesuai falsafah Jawa, ”Ajining diri dumunung aneng lathi, ajining raga ana ing busana.”—Nilai diri terletak di mulut, nilai fisik terletak pada pakaian.

Kedua, Keunikan.  Merek yang kuat tidak dapat dibangun dalam satu malam, ini memerlukan waktu, upaya nyata agar apa yang kita lakukan sesuai dengan harapan orang lain.

Keunikan diri yang membedakan kita dengan orang lain adalah hal mendasar agar kita mampu memberikan harapan yang baik bagi orang lain.  Keunikan inilah yang membedakan kita dari “kerumunan” sehingga orang lain tahu bahwa kita adalah “ahli” di bidang tertentu.

Isi keunikan/diferesiasi adalah sisi keunggulan yang kita miliki dibanding orang lain.  Keunggulan ini dapat menjadi nilai lebih tawaran kita kepada orang lain.

Kuat ketam karena sepit”; “Kuat burung karena sayap”; “Kuat ikan karena radai”; “Kuat manusia karena akal.”  Tiap-tiap orang ada mempunyai kekuatan atau kelebihan bagi dirinya.  Karena itu, kembangkan kekuatan dan kelebihan yang dimiliki tersebut agar menjadi keunikan kita dibandingkan orang lain, sebuah peribahasa Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah dapat dijadikan cetar untuk mengedepankan keunggulan dan potensi diri daripada kekurangan atau kelemahan diri.

Ketiga, Kemampuan Melayani. Sebagai pribadi, diri kita juga mampu memberikan kualitas layanan yang optimal, seperti kemampuan untuk memberikan perhatian kepada orang lain (empathy), kemampuan untuk membantu orang lain dalam memberikan layanan yang tanggap (responsiveness), ramah, santun, amanah, dll.  Isi keramahan adalah emotional capital kita yang terus diisi dengan memberikan kesan melayani di setiap “sentuhan” dengan orang lain.

Di dunia pemasaran jasa (service marketing), sentuhan ini diistilahkan menciptakan “moment of truth”, pelayanan yang tak terlupakan, yaitu perilaku di mana ketika kita berhubungan/kontak dengan orang lain, kita mampu memberikan impresi atau kesan baik terhadap layanan yang diberikan. Di Riau dikenal dengan istilah, “Adat idup uang bijaksano, ati ondah akal sempono, bebuat baik bepado-pado, yang buuk dijaoukannyo.”  Ketika melayani, kita memiliki penghargaan terhadap kemanusiaan yang sangat tinggi.  “Adat hidup orang bijaksana, hati rendah akal sempurna, berbuat baik berpada-pada, yang buruk dijauhkannya.”  Orang bijak, umumnya rendah hati dan memiliki padangan luas.  Itulah prinsip melayani dan membantu orang lain.

Keempat, Janji.  Kekuatan nyata merek yang baik—dalam hal ini nama diri—adalah ketika kita mampu memenuhi harapan orang  lain atau merek tersebut mampu merepresentasikan janji apa yang terucap itulah yang dilakukan.

Sebuah merek diri yang baik jangan terkotori oleh janji yang mencla-mencle, lalu tidak ditepati.  “Secangreud pageuh segolek pangkek.”  Peribahas Sunda yang artinya, “Suka menepati janji, sejalan ucapan dengan perbuatan merupakan”, merupakan nasihat baik yang dapat dipegang oleh pribadi agar tetap konsisten menjaga lisan yang terucap sesuai tindakan.  Inilah elemen pembangun reputasi diri, agar pilar ekuitas nama diri tetap berdiri tegak.

Kelima, Kejujuran.  “Wong jujur bakale luhur”   Pepatah Jawa ini dapat menjadi pengingat untuk membangun nama baik, diri pribadi harus memberikan sifat jujur (honest).  Kejujuran dapat memunculkan keyakinan orang lain dan membantu mengurangi risiko orang lain dalam bekerja sama.  Jujur  juga memberikan jaminan bahwa kita adalah insan yang andal.

Keenam, Kepercayaan dan Kredibilitas.  Dapat dipercaya yaitu mampu memegang amanah dan tanggung jawab yang diberikan, serta melaksanakan amanah tersebut dengan baik.  “Nak luruih rantangkan tali, luruih bana dipacik sungguah.”—Selalulah bersifat lurus dan tulus ikhlas dalam pergaulan, yakni selalu bersifat benar dan jujur, inilah kunci kepercayaan orang lain.

Terakhir, ketujuh, adalah harga atau kebanggaan diri yang dinilai oleh orang lain. Elemen kualitas diri, layanan yang diberikan, janji, keunikan/diferensiasi, kejujuran, dan kredibilitas merupakan faktor yang dipertimbangkan orang lain untuk memilih—apakah kita atau orang lain—dalam bermitra. Harga (nilai) merupakan elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan.  Harga di sini bukan lah harga sesungguhnya, melainkan “nilai” Anda di mata orang lain, di sanalah posisi tawar kita untuk memilih pekerjaan apa dan dengan harga berapa pekerjaan itu mau dihargai untuk kita.  Ngunduh wohing pakarti. Setiap orang, jika bersungguh-sungguh berusaha dan berbuat baik, maka akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.  Harga dan kebanggan inilah yang akan menjadi modal yang menghasilkan keuangan bagi pribadi (financial capital).   Di sinilah kita diartikan dan dinilai, Berapakah harga dari sebuah kontribusi kita terhadap penyelesaian sebuah permasalahan?” Seperti, berpakah kita digaji sebagai karyawan, berapakah kita diberikan honorarium sebagai pembicara/konsultan, atau seberapa besar insentif dan reward yang diberikan atas kontribusi kita dalam sebuah pemikiran, dll.