Menulis Adalah Ekspresi Diri

Writing is the supreme solace.

~ W. Somerset Maugham

 

Sepulang kerja, setiap harinya, jalan Diponegoro Jakarta Pusat menjadi tempat yang kulalui. Jalan ini terlihat “menyejukkan” dari sudut Metropole (dulu Megaria) sampai ujung pertigaan gerai McDonald. Walaupun sore menjelang malam, kemacetan masih tampak, karena kepadatan arus kendaraan saat jam pulang kerja. Namun, mobil-mobil tetap bergerak lamban mengular.

Sejuk karena jika kita tengok ruas kiri dan kanan jalan tampak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan dua kampus besar.

“Menyejukkan” bagi mereka yang sedang sakit masih dapat berobat dan bertemu dokter-dokter yang ikhlas menolong dan mengobati; juga terasa “sejuk” karena kampus adalah tempat menimba ilmu. Kampus merupakan tempat pelepas dahaga bagi mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan, meneguk kejernihan ilmu untuk bekal-bekal kebaikan.

Namun, kadang-kadang jalan sejuk Diponegoro tersebut sesekali tampak menegangkan jika mahasiswa turun ke jalan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Hiruk pikuk kemacetan akan menjadi lebih serampangan lagi karena pengalihan arus lalu lintas akibat pemblokadean jalan.

Seperti Jalan Diponegoro yang sejuk sesekali menjadi serampangan tadi, begitu pula jalan-jalan kehidupan, menyejukkan kadang juga menegangkan. Akhirnya, jalan kehidupan itu bisa berliku; tidak lurus dan banyak hambatan. Jalan kehidupan yang dilalui sesekali mendapat “hambatan” dan tidak selalu semulus yang diharapkan.

Aksi mahasiswa yang terjadi di Jalan Diponegoro tersebut adalah ungkapan tuntutan rakyat yang mereka representasikan kembali dalam demonstrasi.Begitu pula kehidupan manusia, membutuhkan ekspresi dan letupan untuk mengatasi “hambatan” agar bisa tersalurkan dengan tepat; Dengan begitu, jalan berliku bisa kembali lurus dan dapat dilalui dengan nyaman. Penyaluran ekspresi diri: marah atau ramah, sedih atau bahagia, saran atau kritik; dapat dituangkan dalam sebuah tulisan.

Ingatkah masa-masa sekolah dulu, banyak di antara kita yang masih menggunakan diary sebagai catatan harian guna menuangkan ekspresi, “pergulatan” apa yang ada di dalam hati: suka atau duka, tawa atau sedih.

Ekspresi diri yang tersalurkan dalam tulisan dan “aksi pena” ini dapat “menyehatkan”. Sehat karena “sesak” di dada melega mendapatkan jalan untuk dikeluarkan. Ekspresi yang penuh di hati disalurkan lewat “teriakan” melalui bahasa lisan dan dituangkan dalam goresan kata-kata melalui bahasa tulisan.

Joseph F. Trimer, penulis buku Writing With a Purpose, menyatakan menulis adalah “kesempatan” yang memungkinkan penulis mengekspresikan diri, menyampaikan ide, dan menanggapi pendapat orang lain. Dengan menyusun dan mengorganisasikan ide, dan mendapatkan kata-kata tepat untuk mengekspresikan diri, ini akan memberikan kekuatan diri. Kekuatan untuk percaya diri dan memiliki kemampuan mengatasi tekanan emosi diri, karena “sesak” di dada tercurahkan dalam tulisan.

Dengan berkembangnya media sosial, saat ini, ekspresi diri tersebut ditulis pada dinding-dinding Facebook, status Twitter, atau status pada BlackBerry Messenger.Sama seperti gundahnya Taufiq Ismail dalam kutipan catatannya, “Kenapa di ruang tunggu dokter spesialis penyakit jantung di Cirebon pengantar pasien tidak membaca buku drama, tapi asyik main SMS?

Lalu, kenapa tidak fragmen-fragmen “ekspresi” dan kegundahan hati ini ditulis dalam catatan-catatan kecil, diary, post it, notebook, atau kertas-kertas kecil? Karena mungkin saja suatu saat nanti kita bisa tumpahkan ekspresi ini ke dalam tulisan bermanfaat. Bukankah pena juga cara yang baik untuk menyalurkan ekspresi diri?

Achdiat Karta Mihardja, kelahiran Jawa Barat 6 Maret 1911, sastrawan angkatan Pujangga Baru, dikenal dengan nama pena Achdiat K. Mihardja menyatakan kalau pada suatu saat ia ada hasrat untuk melukiskan suatu persoalan yang hebat dan khas pengaruhnya atas nasib dan perkembangan kehidupan seseorang sebagai individu tertentu, maka cara yang paling tepat dan efektif baginya adalah menulis sebuah roman, novel, cerpen, atau drama. Misalnya, untuk melukiskan pengaruh suatu persoalan hidup (ada-tidak adanya Tuhan) yang sangat hebat memengaruhi nasib dan perkembangan hidup seorang tokoh yang bernama Hasan, Achdiat menulis roman Atheis (1949). Untuk melukiskan persoalan korupsi versus suara hati nurani, ia menulis drama Pak Dullah in Extremis (1977). Untuk menggambarkan persoalan masyarakat liberal-kapitalis yang berat dijenuhi oleh semangat sekuler-materialistis dan pengaruh negatif atas individu dalam hidup, ia menulis Debu Cinta Bertebaran (1973). Kemudian, untuk melukiskan sifat mata keranjang karena duit dan kedudukan serta pengaruhnya atas nasib seorang perempuan yang dihadapkan dengan soal batil-tidaknya abortus, Achidat menulis cerpen “Kisah Martini”.

Kita tengok cerita terkini. Iwan Setyawan, penulis novel 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple, mencurahkan pengalaman pribadi dalam bentuk tulisan novel-autobiografi. Pada kisah yang ia goreskan di novel tersebut, Iwan menuliskan pengalaman hidup anak sopir angkot dari daerah kecil, Batu Malang, yang bisa menjadi seorang direktur, asalkan mau sungguh-sungguh berusaha: dengan kerja keras dan pendidikan baik. Buku yang ditulisnya adalah ekspresi diri dan pengalamannya yang dapat dibagi kepada pembaca untuk nilai-nilai kebaikan.

Sebuah jurnal psikologi klinis yang ditulis Pennebaker dan Seagal berjudul “Forming a Story: The Health Benefits of Narrative” menyebutkan bahwa “Menulis tentang pengalaman pribadi yang penting secara emosional hanya dengan 15 menit selama tiga hari membawa perbaikan di bidang kesehatan mental dan fisik.” Dalam jurnal tersebut juga disebutkan bahwa mereka yang menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam mengenai pengalaman traumatis dalam hidup, melepaskan dan mengeksplorasi emosi mereka, secara drastis dapat mengurangi beban emosi di hati. Ini akan menghasilkan suasana hati yang lebih baik, cara pandang hidup yang lebih positif, dan kemajuan kesehatan fisik.

Baikie dan Wilhelm dalam jurnal berjudul “Emotional and Physical Health Benefits of Expressive Writing” menyatakan bahwa menuliskan peristiwa-peristiwa traumatis, penuh tekanan, dan emosi bisa menghasilkan perbaikan kesehatan fisik dan mental.

Dari hasil penelitian mereka, peserta yang menulis 3–5 kali peristiwa traumatis tersebut selama 15–20 menit umumnya mengalami perbaikan hasil bermakna terhadap kesehatan fisik dan mental dibandingkan mereka yang menulis tentang topik netral.

Baikie adalah seorang psikolog klinis dan peneliti di Sekolah Psikiatri, Universitas New South Wales; sedangkan Wilhelm adalah seorang konsultan psikiater di Rumah Sakit St Vincent Sydney, Australia. Keduanya menyarankan bahwa menulis ekspresif dapat digunakan sebagai alat terapi untuk lepas dari trauma dan masalah-masalah kejiwaan.

Saat ini, banyak media online dan offline yang bisa digunakan untuk menuangkan ekspresi ke dalam tulisan, seperti blog, wordpress, catatan pada Facebook, majalah, koran, dan buku; yang telah melebarkan jalan bagi mereka yang ingin menulis.

Letupan “emosi” yang ada di kepala dalam bentuk ide, gagasan, atau saran dapat dituangkan dalam tulisan. Oleh karena itu, ekspresikanlah ide dan kreativitas Anda tidak hanya ke dalam bahasa lisan, tetapi juga ke dalam bentuk tulisan. Jika dibaca, tulisan tersebut akan bermanfaat bagi banyak orang.

 

 

Writing is a form of therapy; sometimes I wonder how all those, who do not write, compose, or paint can manage to escape the madness, the melancholia, the panic fear, which is inherent in a human condition

~ Graham Greene