Menulislah!

Aku tidaklah memiliki hak otoritatif untuk mengajak Anda menjadi penulis, apalagi mengajari bagaimana menulis: menjadi penulis—be a writer. Jika diselisik, modalku  untuk menyublimasi ide menjadi tulisan, buku, pun masih perlu dipertanyakan lagi. Namun, ini bukan soal mengajari contoh-contoh kepenulisan, karena itu adalah ranah
mereka yang secara intelektual memiliki otoritas mengajari: akademisi.

Menulis juga merupakan cara berkomunikasi. Perannya sejajar dengan komunikasi lisan yang dibangun sejak masa
kita balita dulu. Namun, bahasa tulisan ini dalam konteks sosial sehari-hari “kalah” cepat berlari dibanding bahasa lisan. Alhasil, budaya tulis lebih sedikit berkembang dibanding budaya ngobrol, ngerumpi, dan ngegosip. Di sinilah kumencoba berperan, bagaimana mencurahkan ide yang ada di kepala menjadi tulisan di sela-sela kesibukan kita.

Buku saku Be a Writer: Orang Sibuk Juga Bisa Nulis! ini kuperuntukkan bagi rekan-rekan profesional, pengusaha,
mahasiswa, atau siapa pun yang berminat mencurahkan idenya ke dalam tulisan. Sebagai orang sibuk kantoran, peniaga, ataupun penempuh pendidikan formal di bangku kuliah, sebenarnya di tangan kita ada banyak hal yang sudah dikerjakan, sedangkan di kepala kita masih banyak ide yang belum tersalurkan. Nah, ide atau gagasan yang masih belum tersampaikan itu, mungkin saja ada yang berhak diketahui orang lain. Untuk itu, beri tahulah mereka lewat tulisan, walaupun hanya “seayat”.