Mulailah Menulis

“Writing is an exploration. You start from nothing and learn as you go.”

~E. L. Doctorow

 

Aku tidak bermaksud mengajak Anda berpindah profesi. Bukan pula bermaksud mengajak Anda berpindah kuadran dari pekerja atau pengusaha menjadi penulis. Ini berlaku kecuali jika Anda memang seorang jurnalis atau pengajar: guru atau dosen. Dalam profesi-profesi tersebut, menulis jelas merupakan bagian penting dari pekerjaan sehari-hari.

Sebagai pekerja profesional di perusahaan, pekerjaan Anda mendatangkan cukup penghasilan tidak hanya pada urusan perut, tetapi juga sudah lebih untuk sekadar “bersenang-senang”. Aku juga tidak ingin meracuni mereka yang berwirausaha atau berniaga untuk pindah profesi menjadi penulis. Jelas, penghasilan penulis kalah jauh dibandingkan profesi pengusaha. Namun, ini bukan soal hitung-hitungan matematis penghasilan, tetapi soal aktualisasi diri: berbagi pengetahuan.

Namun, sebenarnya profesi penulis juga bisa menjanjikan pendapatan tinggi. Lihat saja hitungan royalti yang didapat dari sebuah buku. Sebut saja A. Fuadi. Bukan untuk menghitung-hitung uang orang lain, tetapi jika kita ingin berkalkulasi saja, berapa sih penghasilan untuk sebuah novel Negeri 5 Menara? Mari kita hitung untuk 10% royalti yang dikali jumlah oplah hingga cetakan terakhir, katakanlah mencapai 200.000 eksemplar. Dengan harga buku Rp50.000 berarti setidaknya terkumpul sejumlah Rp1 miliar pendapatan sejak tahun 2009 di awal terbitnya. Hal ini belum termasuk film dan gimmick ikutan novel Negeri 5 Menara tersebut, seperti kaus, stiker, dan pin.

Sekali lagi, ini bukan untuk meningkatkan pendapatan; ini soal berbagi ilmu. Pendapatan dari royalti itu adalah berkah dari ilmu yang terbagi. Sekarang kita ke ranah pengusaha, menilik buku yang ditulis Rangga Umara si Raja Lele. Pemilik gerai Lele Lela ini menulis buku The Magic of Dream Book. Ini merupakan cara pengusaha sukses Rangga Umara untuk berbagi ilmu.

Kita tengok juga seorang profesional supersibuk, Jimmy Gani. Sosok muda inspiratif yang kini dipercaya menakhodai PT Sarinah (Persero), perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang ritel. Ia meluncurkan buku pertamanya berjudul Winning with Passion: 6 Blueprint Pribadi Kaya dan Sukses pada 2011. Di buku ini, Jimmy Gani ingin berbagi cara membangkitkan jiwa pemenang dalam diri kita. Dengan aktivitas sebagai orang nomor satu di Sarinah, direktur utama, beliau tetap menyempatkan diri berbagi pengetahuan untuk menanamkan nilai pemenang dalam diri.

Kita lihat pula St. Kartono, seorang guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta, kolumnis yang rajin menulis artikel di halaman opini surat kabar harian Kompas dan koran lainnya.Sebagai guru, beliau tidak hanya sibuk dengan urusan mengajar. Banyak bukunya yang telah ditulis dan diterbitkan, seperti pesannya: “Menulis adalah suatu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap ‘hidup’.”

Kita ke rekan-rekan mahasiswa: Imaroh Syahida, Ika Feni Setiyaningrum, Vico Luthfi Ipmawan, Lia Nurul Husnah, Galih Annisa Hakiki, dan Meita Wulan Sari. Keenam mahasiswa Fakultas MIPA angkatan 2009 ini tergabung dalam Gapura (Gabungan Penulis UNY Raya).Mereka menulis sebuah buku berjudul Mengalir Bukan Air. Buku ini merupakan kumpulan artikel motivasi yang selama ini telah dimuat dalam berbagai surat kabar atau majalah. Bukankah mahasiswa juga sebenarnya penat dengan tugas-tugas kuliah? Namun, mereka masih dapat menyempatkan diri menulis buku.

Aku hanya ingin berkata bahwa menulis itu bukan soal mengejar penghasilan. Boleh saja sih, menulis dan menjadi penulis sebagai jalan hidup karena pertimbangan passion. Tetapi yang terpenting adalah cara kita mengaktualisasikan diri dan beribadah dengan berbagi ilmu. Sebut saja di antara kita adalah seorang profesional yang bekerja sebagai manajer sumber daya manusia, alangkah indahnya jika kita berbagi hal-hal seputar human resources.

Nah, pastinya banyak hal yang sudah kita kerjakan dan dapat di-sharing ke orang lain. Itulah A. Fuadi, Jimmy Gani, Rangga Umara, St. Kartono, dan keenam mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, sesibuk apa pun mereka, masih sempat menulis buku.

Pengetahuan dikembangkan dan diperluas oleh manusia, lalu direkonstruksi kembali menjadi bangunan bermakna dalam kehidupan nyata, lewat lisan dan tulisan. Lalu, apa yang engkau khawatirkan untuk berbagi?

Profesional yang sibuk di kantor, pengusaha yang sibuk berniaga, guru yang sibuk mengajar, dan adik-adik mahasiswa yang sibuk belajar di kampus, masih sempat mengetik, menuangkan ide, dan menulis buku untuk berbagi. Hal apa lagi yang masih harus diragukan untuk menulis? Tidak ada waktu, sibuk, capek? Buang jauh-jauh pikiran itu. Berbagilah ilmu dengan tulisan maka karya tersebut akan dikenang.

Masalah bisa atau tidak menulis, harus memulai dari mana tulisan, bagaimana kaidah baku penulisan, EYD, unsur ketatabahasaan, atau pemilihan kata bukanlah halangan untuk menuangkan ide ke dalam tulisan. Soal terpenting adalah tentang kemauan saja. Mau untuk menulis, mau untuk berbagi, dan ini soal praktis: hanya mencoba, lalu praktikkan. Pasti bisa!

Untuk memulai tulisan, soal-soal apa yang akan ditulis, gagasan apa yang bisa dibagi, agar tidak menimbulkan kebingungan dalam diri, juga supaya tidak disebut latah menulis, pastikan menulis soal-soal yang diketahui. Hal-hal yang dekat dengan kita, soal-soal yang disukai, dan hal-hal yang terkait dengan apa yang dikerjakan.

Lihat saja buku-buku yang terkait penjualan, keuangan, sumber daya manusia, ataupun buku-buku motivasi, umumnya penulisnya adalah mereka yang pernah berjibaku dan menekuni bidang tersebut hingga detail. Seorang tenaga penjual bisa menulis buku tentang cara-cara menjual, bagaimana kenyangnya mereka menghadapi penolakan, dan bagaimana mengubah penolakan menjadi berkah penjualan.

Minat menulis adalah udara yang terus menyegarkan; terhirup dan menghidupi penulis. Ini bukan soal royalti, pastinya. Bisa saja Anda sudah berkecukupan dengan bekerja sebagai profesional atau pengusaha. Dalam hal ini, tak jarang penulis yang menggunakan royalti karyanya untuk kegiatan sosial dan amal.

Disiplin Menulis

Kedisiplinan menulis, perlukah? Aku tidak ingin menganjurkan agar disiplin dalam menulis. Ini karena sebagai profesional, pengusaha, pengajar, atau mahasiswa, jelas prioritas disiplin itu untuk tugas-tugas dan pekerjaan utama. Namun, di saat-saat bekerja, di sela-sela kesibukan, Anda dapat mem-blocking time, menggunakan 1–2 jam, di saat malam hari sebelum beranjak istirahat tidur atau di pagi hari sebelum beraktivitas, untuk menyelesaikan tulisan. Bahkan, dengan menulis, beban dan tekanan kerja yang ada di kepala akan sedikit berkurang karena pengalihan emosi ke dalam tulisan. Di sinilah nikmatnya menulis. Kita pun akan bahagia jika dapat melihat tulisan tersebut dimuat di media online maupun offline, baik dalam bentuk artikel maupun buku. Mulailah menulis. Selamat mencoba!

 

Without words, without writing and without books there would be no history, there could be no concept of humanity.

~  Hermann Hesse