Rumah sebagai Crystal of Knowledge

 “Lewat membaca dan menulis kita bisa mengabadikan sejarah, menyublimasi pikiran dan perasaan diri agar terawetkan melampaui ruang dan waktu, meninggalkan sejarah dengan sebuah jawaban.

 

 

Jika Anda pernah mengunjungi perpustakaan Universitas Indonesia (UI) di kampus Depok, di gedung tersebut terpampang tulisan berukuran besar: “The Crystal of Knowledge” yang menandakan bahwa sebagai institusi pendidikan, UI menganggap perpustakaan sebagai jantung pendidikan, terus berdetak menggerakkan pemikiran-pemikiran para cendekiawan agar abadi melampaui ruang dan waktu.

Bagaimana dengan rumah? Sebagai tempat anak-anak bertumbuh-kembang sejak bayi hingga dewasa nanti, apakah rumah telah menjadi crystal of knowledge? Sudahkah rumah menjadi perpustakaan yang menyimpan banyak buku pengetahuan bagi mereka?

Mereka yang berstatus pelajar dan mahasiswa, buku adalah “sumur” ilmu yang harus terus ditimba agar mendapatkan air jernih pengetahuan. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah, perpustakaan milik pemerintah, ataupun perpustakaan lembaga swadaya hendaknya kita jaga dengan baik agar pengetahuan di dalamnya tetap terjaga dengan baik pula.

Tradisi membaca yang kini telah banyak dilakukan di dunia pendidikan formal kiranya perlu merambah dunia nonformal, agar ia tidak terhenti ketika selesai menempuh pendidikan saja. Membaca buku juga harus dibudayakan di mana pun dan kapan pun kita berada. Jadikanlah buku sebagai teman yang baik saat menunggu di ruang-ruang antrean, di gerbong-gerbong kereta, di atas bus, ataupun saat perjalanan pesawat. Di rumah sekalipun, buku menjadi teman yang baik untuk menggantikan budaya menonton sinetron. Seperti apa yang disampaikan Suherman dalam bukunya Bacalah!, ”Buku adalah teman duduk yang paling setia, pelipur yang menyenangkan, dan teman keluh kesah yang paling bisa dipercaya.”

Buku adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah cara kita agar dapat menjelajahi gudang tersebut. Dengan membiasakan membaca maka pemikiran kita tetap terbarukan.

Dalam hal membaca, kita dihadapkan pada dua macam bacaan: buku-buku tersurat (tertulis)—pada makna sesungguhnya (tekstual)—dan buku-buku yang tersirat, yaitu bacaan kehidupan (kontekstual). Tengok saja kisah-kisah kehidupan yang bisa kita tarik pelajaran berharga di baliknya: kasus pengendara mobil di bilangan Tugu Tani yang menyeruduk halte hingga menelan 9 korban jiwa karena diindikasikan mengonsumsi narkoba. Dari sini, secara sederhana kita dapat mengambil makna berharga bahwa narkoba itu bahkan berbahaya dan bisa membahayakan nyawa orang lain.

Tulisan kehidupan yang kita torehkan dalam hidup akan berwajah buruk rupa jika pikiran, perbuatan, dan perilaku kita kurang terpuji. Itulah lembar pengetahuan yang bisa dibaca dari buku kehidupan. Kita adalah pena yang menuliskan kisah pada buku kehidupan diri sendiri.

 

Rumah Tanpa Jendela

Sebuah rumah akan terasa pengap dan sesak jika dibangun tanpa ventilasi atau jendela. Sirkulasi udara akan terganggu, aliran udara yang keluar-masuk menjadi terhambat. Diperlukan jendela agar udara pengap di dalam ruangan tergantikan udara segar dari luar.

Begitu pun, jika jendela itu dibuka, maka sinar cahaya akan masuk untuk menerangi kegelapan dan menyegarkan pengap di dalam rumah. Rumah tanpa jendela akan pengap dan jenuh karbondioksida yang berbahaya bagi kesehatan. Rumah tanpa buku, ibarat rumah tanpa jendela. Dengan buku (baca: pengetahuan), pikiran kita terbarukan, dan membaca adalah cara kita untuk membuka “jendela” pengetahuan agar ruang pengetahuan tidak pengap dan sesak, sehingga pikiran kita menjadi lapang dalam memandang sesuatu, masalah sekalipun.

Henry Ward Beecher menegaskan, “Buku adalah jendela di mana jiwa kita melihat ke luar lewat jendela ini. Rumah tanpa buku bak ruang tak berjendela. Jika mampu untuk membeli, tak seorang pun yang berhak membesarkan anak-anaknya tanpa menghadirkan buku di sekeliling mereka.”

Serupa rumah tanpa jendela, rumah tanpa buku ibarat kolam yang tidak pernah dibersihkan. Airnya berbahaya bagi kesehatan kulit dan membuat perih mata orang yang berenang di dalam kolam tersebut. Jika tidak dibersihkan air kolam akan jenuh bakteri, jamur, dan zat-zat berbahaya; oleh karena itu diperlukan upaya ‘pemurnian’ air agar kolam tetap jernih dan bersih. Kolam yang keruh ibarat ‘isi kepala’ kita yang penuh masalah, butek, dan mampet. Otak yang keruh akan berbahaya bagi kesehatan pikiran, ibarat orang bodoh yang berlagak tahu, apalagi sampai memaksakan pemikiran yang berlandaskan ketidaktahuan. Dengan membaca kita mampu melihat sebuah masalah secara luas dan menyeluruh sehingga bila kita harus mengambil keputusan pun kita punya landasan atau alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karenanya, sama seperti kolam tadi, pikiran kita juga perlu ‘dijernihkan’ dengan jalan membaca, menggali pengetahuan agar berbuah kebaikan bagi banyak orang. Hal ini penting khususnya bagi kalangan orangtua, guru, maupun para pendidik lainnya. Orangtua dan guru atau pendidik lain yang tidak suka membaca seperti halnya kolam yang butek akan berbahaya bagi anak-anak dan para siswa. Pikiran keruh kita bisa menjadi ‘racun’ yang mengiritasi pemikiran mereka.

Bak rumah tanpa jendela, rumah tanpa buku juga seperti tubuh yang malnutrisi atau bergizi buruk. Agar tubuh sehat dibutuhkan makanan yang bergizi, mengandung banyak vitamin dan mineral: 4 sehat 5 sempurna.

Jika kita tidak memenuhi tubuh dengan asupan-asupan gizi, maka tubuh akan kekurangan mineral esensial yang dibutuhkan untuk melakukan metabolisme, pertumbuhan, demi mendukung aktivitas sehari-hari (sebagai sumber energi). Jika terus-menerus kekurangan nutrisi, maka tubuh akan lemah dan kurang gizi.

Bahan bacaan, buku-buku yang kita baca, adalah juga asupan bergizi bagi otak dan jiwa kita. Seperti apa yang disampaikan Hernowo, “Buku adalah salah satu jenis ‘makanan rohani’ yang sangat bergizi.”

 

Rumah Menjadi Ruang Baca

Ruang belajar tidak hanya ada di sekolah formal, menimba ilmu tidak hanya di institusi pendidikan, dan membaca buku tidak hanya berlaku di perpustakaan. Jadikanlah rumah sebagai “crystal of knowledge” kecil, tempat keluarga menimba pengetahuan. Gairah membaca haruslah dimulai dari rumah, dari keluarga, dan dari diri sendiri. Sempatkan waktu sejenak untuk membaca setiap hari. Ya, setiap hari. Setidaknya 10–15 menit setiap hari.

Kenapa mesti dimulai dari rumah? Karena mencintai buku dan membiasakan membaca harus dimulai sejak dini kepada anak-anak. Membaca harusnya dicontohkan oleh orangtua: ayah dan ibu. Menurut Lesley Mandel Morrow dalam bukunya Family Literacy Connections in Schools and Communities, “Orangtua adalah guru pertama yang anak-anak miliki, dan orangtua adalah guru yang anak-anak miliki untuk waktu yang lama.” Memperlihatkan kebiasaan membaca kepada anak-anak setiap hari, bagi orangtua yang sibuk bekerja, akan dicontoh dan ditiru oleh mereka. Kebiasaan ini dapat dilakukan malam hari menjelang tidur dan di waktu akhir pekan. Jadikanlah buku sebagai teman keseharian.

Bagi orangtua, membiasakan mengoleksi dan membaca (reading) buku di rumah setidaknya dapat bermanfaat untuk empat hal yaitu, pertama, mengurangi beban pikiran setelah bekerja seharian (reduces stress). Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Sussex, membaca adalah cara terbaik untuk bersantai dan bahkan meluangkan waktu 6 menit saja cukup untuk mengurangi tingkat stres lebih dari dua pertiga atau 68%. Tingkat ini mengungguli reduksi stres dengan cara mendengarkan musik, minum teh atau kopi, juga berjalan-jalan. Kedua, menambah informasi pengetahuan dari pesan yang didapat (add knowledge). Ketiga, meningkatkan cara-cara berpikir analitis (increase analytical thinking), dan keempat, meningkatkan keharmonisan anggota keluarga (getting harmonize with all family member). Untuk poin keempat, bisa berlaku ketika orangtua dan anak berkumpul bersama sembari membaca atau saling berbagi pengetahuan atas buku yang dibacanya. Menurut Mulyanti dalam Jurnal Kependidikan, “Jika orangtua dan anak sama-sama membaca, terbuka peluang untuk mendiskusikan isi buku tersebut. Ini adalah kesempatan emas yang baik untuk mempererat komunikasi antara orangtua dan anak.” Melalui kebiasaan mengoleksi dan membaca buku yang terus dipupuk dari rumah, setidaknya ini akan menumbuhkan kristal-kristal pengetahuan kepada generasi penerus: anak-anak kita.

 

“The love of reading is not innate; it is a habit which must be cultivated.”

 ~Teri S. Lesesne.