Smile-up: Tawakal, Bersabar, dan Tersenyumlah

 

Patience, persistence, and perspiration make an unbeatable combination for success.

~ Napoleon Hill

Kerja Belum Usai, Tawakallah!

Semua yang telah kita lakukan: mengunggah mimpi, merencanakan tujuan-tujuan hidup, mengejar dan menjemput impian, dan berdoa agar Tuhan mengabulkannya akan lengkap jika ia ditutup dengan tawakal (berserah diri).  Percaya sepenuh hati bahwa segala apa yang terjadi dan telah didapatkan merupakan yang terbaik dan pantas menurut-Nya.

Tidak ada kata “gagal”. Ketika kenyataan yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Ia adalah ruang untuk kita belajar, memperbaiki diri, dan kembali menjalankan rencana sesuai dengan apa yang telah dicita-citakan.  Tuhan sedang “mengingatkan”, bahwa kita harus memperbaiki diri dan kembali memantaskan diri lewat perbaikan: memperbarui pengetahuan (update knowledge), meningkatkan kapasitas (upgrade capacity), memperbaiki tujuan dan rencana (prapare plan), dan kembali beraksi (action).

Sebaliknya, tidak ada kata “berhasil”.  Apa yang didapat ketika harapan kita sesuai dengan kenyataan adalah ruang untuk kita bersyukur dan tidak lalu terus terlena dan berpuas diri, kembalilah berusaha.

Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang nantinya menyempurnakan langkah-langkah kita untuk mendapatkan apa yang diharapkan.  Sehingga, keberhasilan dan kesuksesan bukan menjadikan kita sombong. Sedangkan kegagalan tidak menjadikan kita putus asa. Keduanya diperlukan dalam hidup: sukses dan gagal adalah teman yang baik untuk kita terus memperbaiki diri.

Bersabarlah!

Tetaplah bersabar.  Setiap langkah perjalanan untuk mencapai cita-cita akan melalui jalan-jalan tak saja lurus namun bisa berliku-liku, mendaki, mungkin berlubang, dan berbatu.  Kesemua jalan pendakian ini  anakn menguatkan langkah kaki.

Ada saja nanti, ketika kita melangkah, jalan yang dilalui akan menemukan batu halangan, kerikil rintangan, bahkan mungkin tidak selalu mulus seperti yang dibayangkan. Ia bisa saja memerlukan tenaga untuk mendaki, atau degup jantung yang kencang karena “jurang” yang membentang.  Namun, jangan pernah menyerah, jangan berhenti di tengah jalan, karena kita tidak pernah tahu garis finish kesuksesan  itu sesungguhnya mungkin hanya tinggal selangkah lagi.

Semua yang kita lakukan adalah menuju kepantasan diri, sesuai kehendak Sang Maha Pencipta, bukan pantas menurut diri sendiri atau di mata manusia lainnya. Karenanya, visi pun harus berujung di kampung akhirat yang kaya akan kebaikan dan nilai-nilai spiritual.

Tetap Tersenyumlah

Tuhan tidak akan meng-cancel, usaha dan doa kita.  Doa “sukses mulia” yang kita lambungkan ke-arasy-Nya, terkadang kita sendirilah yang tidak menyakini akan terkabul.  Lalu, kita pun ragu untuk melangkah.  Keragu-raguan inilah, yang mengikat langkah kita.  Padahal, jalan kesuksesan itu terbentang luas.  Tinggal bagaimana kita melatih menguatkan otot-otat kaki kita untuk melangkah.

Seperti halnya anak Balita ketika belajar berjalan: jatuh-bangun, tersungkur-berdiri lagi, menangis-tertawa lagi.  Ia tidak pernah menyerah. Karena, di kepalanya, Balita, tidak pernah berpikir gagal, yang ada hanyalah berusaha dan berusaha lagi.  Di balik tangis terjatuh, ada senyum yang ia simpulkan untuk kembali melangkah walau nanti terjatuh lagi.

Semua usaha tetap tergantung pada kebulatan hati untuk menjemput masa depan lebih baik. Semangat dan kesebaran orangtua yang mengajari kita berjalan, tetap membutuhkan usaha kita untuk merangkak dan berjalan.

Our patience will achieve more than our force.

~ Edmund Burke

Yakinlah! kesungguhan, kerja keras, cucuran keringat yang membasuhi usaha kita akan membentuk kristal kesuksesan, tangis kebanggaan, dan senyum kebahagiaan.  Teruslah bermimpi!

Percaya sepenuh hati bahwa segala apa yang terjadi dan telah didapatkan merupakan yang terbaik dan pantas menurut-Nya.