The Power of Reading

“Membaca bertujuan memetik pengetahuan, mengikat makna yang terkandung dari ribuan bahkan jutaan kata sarat pembelajaran.” ~ALA

Sumber Gambar: https://www.timeshighereducation.com/books/reviews-what-are-you-reading-23-june-2016

Survei yang dilakukan di AS pada akhir tahun 2011, terhadap 2,474 responden usia 16 tahun ke atas didapati 8% telah membaca 1 buku, 17% membaca 2-3 buku, 16% membaca 4-5 buku, 19% membaca 6-10 buku, 18% membaca 11-20 buku, dan 22% membaca lebih dari 20 buku dalam 12 bulan teakhir. Apakah kita bagaian dari 22% yang membaca lebih dari 22  buku dalam setahun?

Negara Indonesia dengan jumlah penduduk hampir 240 juta jiwa baru menerbitkan buku sekitar 24.000 judul, bandingkan dengan Vietnam yang menerbitkan buku dengan jumlah yang sama dengan penduduk yang hanya 40% penduduk Indonesia; atau Singapura yang berpenduduk 6,8 juta jiwa yang menerbitkan buku lebih 12.000 judul per tahun.  Apa salah dari sedikitnya jumlah buku yang terbit di Indonesia? Salah satunya adalah kegemaran untuk membeli dan membaca buku.

Kegemaran membaca tidak serta-merta muncul begitu saja dalam diri. Ia juga tidak hadir seusia kelahiran kita, kebiasaan membaca muncul sejak kita memasuki dunia sekolah formal, yaitu sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Lalu kebiasaan itu menguap setelah lulus kuliah.  Kebiasaan membaca di dunia pendidikan formal telah “tersublimasi” oleh kesibukan bekerja atau menguap hanya karena kemalasan diri.

Karena membaca bukanlah bakat turunan dari orangtua, maka ia harus ditumbuhkembangkan dalam diri. Kegemaran membaca bukanlah perilaku yang timbul begitu saja. Ia haruslah muncul dari kesadaran diri akan pentingnya membaca sebagai upaya memupuk,  menyuburkan, dan mengembangkan kebun pengetahuan agar berbuah manfaat.

Untuk menumbuhkembangkan budaya baca di rumah, ada beberapa hal yang harus dilestarikan: Pertama, biasakan membacakan sedikitnya 10–15 menit setiap harinya. Kedua, biasakan membaca di pagi hari pada jam-jam persiapan berangkat kerja atau di saat pulang kerja pada malam hari. Bacaan ringan seperti koran, majalah, atau buletin bisa dibaca di tengah “ketergesaan” menuju aktivitas kantor. Ketiga, jadikan rumah sebagai perpustakaan kecil dengan mengoleksi buku-buku yang disukai. Keempat, mulai memasukkan buku ke dalam daftar belanja bulanan, sehingga ada anggaran khusus yang dialokasikan untuk menambah jumlah bacaan.  Kelima, bawalah buku ke mana pun Anda berada. Jadikan buku sebagai teman berpergian, saat menunggu klien, atau mengisi waktu luang.  Dan keenam, ajaklah keluarga ke toko buku, perpustakaan, atau taman-taman bacaan sehingga memupuk rasa suka mereka terhadap buku.

Membaca bertujuan menyuburkan pikiran-pikiran yang telah “tandus” dan “gersang”.  Semakin rajin membaca, akan semakin menyadarkan kita bahwa kita adalah insan yang pernuh kekurangan.  Bayangkan jika kita tidak mengisi hati dan pikiran lewat jalan membaca? Setiap pemikiran, tindakan, ujaran, nasihat kita akan “keruh” dan tidak terbarukan oleh informasi dan pengetahuan terkini.  Bagaikan kolam keruh, ia akan berbahaya dan membuat gatal-gatal orang yang berenang di dalamnya. Kolam yang keruh perlu dijernihkan lewat jalan purifikasi: diganti airnya atau diberikan chlorine sebagai disinfektan (membunuh mikroba berbahaya).  Begitu juga jiwa dan hati kita yang tidak diisi dengan “nutrisi” bacaan yang baik,  maka pikiran kita akan keruh, beracun, dan dapat mengotori orang lain.

Untuk memupuk kegemaran membaca dan menyiangi rumput kemalasan diperlukan: Pertama, kesadaran dalam diri akan pentingnya pengetahuan yang bersumber dari buku bacaan. Kedua, biasakan membaca setiap waktu terutama di waktu senggang. Ketiga, membaca tidak harus bersumber dari buku-buku pelajaran; bacaan ringan juga dapat dijadikan bahan bacaan yang menyenangkan. Kita bisa membaca buku motivasi/pengembangan diri, novel, buku cerita, koran, majalah, ataupun buku-buku ringan lainnya. Kita bisa bebas memilih bahan bacaan yang disukai, selama bacaan tersebut bernilai “kebaikan” dan berbuah pengetahuan.

Setidaknya ada tiga tujuan membaca, yaitu kreasi, rekreasi, pencerahan (enlighten).  Tujuan pertama, membaca sebagai sarana kreasi yaitu untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan cara mengikat makna yang terdapat dalam buku bacaan untuk perbaikan diri. Buku adalah amunisi yang ampuh untuk melakukan perubahan. Belajar menggali ilmu dan memahami fenomena kehidupan yang didapat lewat membaca inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Manusia mampu mengkreasi pengetahuan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. Menjadikan bacaan sebagai “cahaya” yang menerangi derap langkah kehidupan manusia berarti mempersiapkan jalan hidup yang lebih terang. Manusia mampu mempelajari “bacaan” kehidupan lewat bacaan tersurat (eksplisit) maupun tersirat (implisit). Tersurat lewat bacaan buku-buku yang ditulis oleh para “guru” kehidupan.  Sedangkan membaca secara tersirat dari pengalaman kehidupan diri sendiri maupun orang lain, yang darinya dapat dipetik “makna” untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Kedua, tujuan membaca untuk rekreasi yaitu membaca sebagai sarana mencari kesenangan atau hiburan. Bacaan rekreasi ini didapat dari buku-buku cerita pendek, novel, puisi, dan bacaan sastra lainnya. Menikmati kisah-kisah penuh tawa canda, suka-duka, sedih-bahagia, dari kisah cerita kehidupan yang sarat pembelajaran baik moral, spiritual, maupun budaya yang ditulis dalam buku tersebut.

Bagi pembaca, kisah cerita dalam sebuah buku dapat menjadi “pengalaman” emosional yang luar biasa, seperti apa yang disampaikan Paul Jennings seorang penulis buku terkenal asal Australia, “Berbaring di tempat tidur sambil cekikikan sendiri, menangis sendiri, merasa penasaran, dan menjelajahi dunia antah-berantah yang dihadirkan penulis dalam pikiran Anda, merupakan keasyikan tersendiri.”

Lebih jauh lagi, tujuan ketiga membaca adalah untuk mencerahkan (enlighten), dengan membaca kita diharapkan mampu memberikan “cahaya” kebaikan bagi orang lain. Tujuan ini sangatlah mulia. Membuka “jendela” dan melihat cakrawala yang lebih luas demi kedewasaan berpikir dan bertindak.

Membaca menjadikan kita makhluk yang terus terbarukan dalam hal pemikiran. Membaca buku tekstual (tersurat) dan kontekstual (tersirat) dapat meng-update pengetahuan, cara pandang, dan sikap kita. Lebih jauh, kegiatan membaca yang dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang dapat memperbarui tingkah laku kita menuju perilaku manusia baru yang lebih baik. Inilah peran penting membaca untuk membangun diri.  Be a Reader!