Building Personal Brand Equity

Sebagian leluhur kita—tokoh-tokoh pemimpin seperti kepala adat, kepala suku, ataupun penghulu (kepala/lurah kampung)—memiliki tradisi menanam pohon pinang di halaman depan rumah. Pohon itu kemudian tumbuh tegak lurus semampai. Pohon itu, selain memperindah halaman, juga melambangkan kelurusanbudi, kesederhanaan watak, dan kejujuran si empunya rumah. —Daoed JOESOEF.

Karakter diri yang baik—lurus budi, sederhana watak, dan jujur diri—selalu diajarkan oleh orangtua kita. Selanjutnya, kitalah yang memupuknya setiap hari dengan nilainilai penguat jenama (merek) diri. Dengan demikian, kelak karakter diri akan mengharumkan nama, meninggalkan jejak-jejak “kebaikan”. Nilai-nilai penguat jenama diri ini kami bagi dalam empat kelompok kapital, yaitu:
1. Modal intelektual (intellectual capital), meliputi kualitas personal dan keunikan;
2. Modal emosional (emotional capital), yaitu kemampuan melayani (serviceability);
3. Modal spiritual (spiritual capital), yaitu menepati janji, kejujuran, dan kepercayaan serta kredibilitas;
4. Modal keuangan (financial capital), yaitu harga diri/kebanggaan diri.

Buku Building Personal Brand Equity: Berguru dari Falsafah Lokal untuk Meningkatkan Ekuitas Jenama Diri Anda ini mengajak Anda untuk memupuk kualitas diri agar menjadi insan yang memiliki kompetensi berbeda (distinctive competencies). Tidak hanya berbeda, tetapi kompetensi yang dimiliki juga harus mampu menjadikan Anda mau membantu orang lain yang membutuhkan.
—Prof. Dr. Mahmuddin Yasin, MBA (Mantan Wamen BUMN).