Reading Interest

Bangsa yang tidak membaca adalah bangsa yang meraba-raba dalam gelap.

~ Muktiono D. Joko

 

Setelah menyelesaikan pendidikan formal di bangku sekolah dulu, kebanyakan di antara kita sibuk dengan aktivitas atau pekerjaan utama sehingga waktu yang dulunya kita gunakan untuk belajar, membaca, dan menggali ilmu: tradisi literasi (baca-tulis), dialihkan untuk bekerja.

Kini tradisi baca-tulis di sekolah tersita, tergantikan oleh aktivitas pekerjaan. Tapi tak ada salahnya bukan, menyandingkan belajar dan bekerja dalam aktivitas sehari-hari. Sama-sama bernilai ibadah. Belajar dan bekerja adalah dua hal yang sama baiknya. Alangkah baiknya juga jika kedua hal tersebut saling melengkapi, bak siang dan malam.

Bagi sebagian orang, tradisi literasi—baca-tulis—masih sedikit diteruskan. Sekali-sekali di sela-sela aktivitas rutin kantor, tak ada ruginya kita membuat catatan-catatan penting saat meeting, membuat surat korespondensi, atau membaca laporan bulanan.

Tradisi baca-tulis dan dialog akademis yang dibangun saat sekolah dulu mulai digantikan oleh tradisi lisan dan kinestetik: kerja, kerja, dan terus bekerja. Syukurnya ada sebagian orang yang tetap melestarikan tradis baca-tulis di tengah-tengah aktivitas kerja untuk menambah ilmu pengetahuan dan kompetensi diri lewat jalan belajar: membaca.

Akankah tradisi membaca ini dapat berjalan seiring—bersama, antara kerja dengan kebiasaan membaca?

Minat membaca bukan kewajiban yang muncul dari paksaan, bukan juga tradisi, apalagi bakat yang muncul sejak lahir. Ia lebih dari ketiganya: membaca sebagai bagian pertumbuhan kehidupan. Sejak balita kita diajarkan untuk mengenali huruf, kata, dan angka; bahkan hingga di perguruan tinggi pun kita terus belajar menggali pengetahuan dengan membaca untuk memahami konteks keilmuan tertentu.

 

Membaca yang Bertujuan

Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai. Dengan tujuan kita mengarahkan langkah menuju apa yang kita inginkan. Adanya tujuan juga membantu kita mengalokasikan sumber daya: waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi untuk mencapai tujuan tersebut.

Begitu pun membaca, haruslah memiliki tujuan. Setidaknya ada dua tujuan membaca: tujuan kreasi dan rekreasi.

Pertama, membaca yang bertujuan sebagai sarana kreasi yaitu membaca untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan cara mengikat makna bacaan yang didapat menuju perubahan diri. Buku adalah amunisi yang ampuh untuk melakukan perubahan. Belajar menggali ilmu dan memahami fenomena kehidupan yang didapat lewat membaca inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Manusia mampu mengkreasi pengetahuan demi menyongsong kehidupan yang lebih baik. Menjadikan bacaan sebagai “cahaya” yang menerangi derap langkah kehidupan manusia berarti mempersiapkan jalan hidup yang lebih terang. Seperti yang telah diutarakan pada bab-bab sebelumnya, manusia mampu mempelajari “bacaan” kehidupan lewat bacaan tersurat maupun tersirat. Tersurat, dari pendidikan formal lewat bacaan buku-buku pelajaran yang ditulis oleh para guru kehidupan: para cerdik cendekia. sedangkan membaca secara tersirat dari pengalaman kehidupan diri sendiri maupun orang lain untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. yaitu mengoreksi nilai-nilai negatif dan meneruskan hal ihwal positif untuk kehidupan esok yang lebih baik.

Kedua, tujuan membaca untuk rekreasi yaitu membaca sebagai sarana mencari kesenangan, hiburan. Bacaan rekreasi ini didapat dari buku-buku cerita pendek, novelette (novel pendek), novel, puisi, dan bacaan sastra lainnya. Menikmati kisah-kisah penuh tawa canda, suka-duka, sedih-bahagia, dari kisah cerita kehidupan yang sarat pembelajaran baik moral, spiritual, maupun budaya yang ditulis dalam buku tersebut. Bagi pembaca, kisah cerita dalam sebuah buku dapat menjadi “pengalaman” emosional yang luar biasa, seperti apa yang disampaikan Paul Jennings, “Berbaring di tempat tidur sambil cekikikan sendiri, menangis sendiri, merasa penasaran, dan menjelajahi dunia antah-berantah yang dihadirkan penulis dalam pikiran Anda, merupakan keasyikan tersendiri.

Lebih dalam lagi, tujuan membaca untuk mencerahkan diri, dan dengan demikian mampu memberikan pelita bagi orang lain. Tujuan ini sangatlah mulia. Membuka “jendela” dan melihat cakrawala yang lebih luas demi kedewasaan berpikir dan bertindak. Membaca menjadikan kita makhluk yang terus terbarukan dalam hal pemikiran. Membaca buku tekstual (tersurat) dan kontekstual (tersirat) dapat meng-update pengetahuan, cara pandang, dan sikap kita. Lebih jauh, kegiatan membaca yang dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang dapat memperbarui tingkah laku kita menuju perilaku manusia baru yang lebih baik. Inilah peran penting membaca untuk membangun diri (lihat bagan Pembangunan Diri Lewat Membaca di bawah ini).

Bagan Pembangunan Diri Lewat Membaca

 

Awali dengan Niat

Segala sesuatu yang akan kita kerjakan haruslah diawali dengan niat. Niat ini yang akan menentukan keberhasilan atau tercapainya suatu tujuan. Niat juga yang akan mengarahkan kita untuk mencapai tujuan. Membaca juga harus diniatkan, harus ada “pemaksaan” dari dalam diri, untuk apa saya membaca.

You are what you think. Engkau adalah apa yang engkau pikirkan. Memikirkan yang baik akan mengarahkan energi untuk melakukan hal-hal yang baik. Imam An-Nawawi berpesan: “Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar maka perbuatan itu benar dan jika niatnya buruk maka perbuatan itu buruk.

Jika Anda seorang pengajar, membaca diniatkan untuk mengumpulkan serpihan pengetahuan, yang kelak dibagikan kepada murid-murid. Sebuah nilai luhur agar para anak didik mendapatkan bekal pengetahuan yang baik.

Jika Anda seorang profesional di perusahaan, membaca diniatkan untuk mempertajam pengetahuan teknis dan nonteknis yang akan bermanfaat dan mempermudah Anda dalam menjalankan pekerjaan.

Jika Anda seorang ayah atau ibu, membaca diniatkan untuk memperkaya pengetahuan yang bisa dibagi kepada anak-anak, sehingga kelak mereka menjadi anak yang berguna.

Tidak ada niat membaca yang buruk. Seyogianya mencari pengetahuan itu pekerjaan yang mulia. Jadi membaca adalah tugas “spiritual” demi menjadi cahaya atau penerang bagi diri sendiri dan orang lain.

Masih ingat istilah mestakung? Kata ini dipopulerkan oleh Prof. Yohanes Surya, Ph.D., yang merupakan akronim dari seMESTA menduKUNG. Prof. Yohanes adalah seorang fisikawan terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Beliau akrab disapa Prof. Yo, terlahir di Jakarta pada 6 November 1963. Menempuh pendidikan sekolah dasar di Pulogadung Petang II, Jakarta Timur pada tahun 1974, lalu melanjutkan sekolah menengah di SMPN 90 Jakarta dan SMAN 12 Jakarta. Beliau terlahir dari keluarga yang tidaklah kaya raya, bahkan sebaliknya sangat memprihatinkan. Ayahnya yang pensiunan tentara hanya memiliki warung kecil di daerah Pulo Kambing, Jakarta Timur. Namun, kemiskinan bukan menjadi penghalang gairah beliau untuk belajar. Orangtua yang tidak mampu serta kemiskinan yang menyelimuti tidak mencabut hak beliau untuk terus menggali ilmu. Semangatnya untuk belajar sangat tinggi. Berbekal semangat belajar, beliau berhasil memperdalam fisika pada Jurusan Fisika MIPA Universitas Indonesia (UI) hingga tahun 1986 lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan Akademik (PMKA). Pesannya, “Berbekal ketekunan, ngotot, dan fokus pada target, semesta akan terseret untuk mendukung impian, membuat kita mampu melakukan pekerjaan yang semula dianggap mustahil! Inilah Mestakung!!!”

Setelah menyelesaikan studi di MIPA UI, beliau mengajar di SMAK I Penabur Jakarta hingga tahun 1988 dan selanjutnya menempuh program master dan doktornya di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Program masternya diselesaikan pada tahun 1990 dan program doktornya di tahun 1994 dengan predikat cum laude. Setelah mendapatkan gelar doktoral, Prof. Yo bekerja sebagai consultant of theoretical physics di TJNAF/CEBAF (Continuous Electron Beam Accelerator Facility) di Virginia, Amerika Serikat. Walaupun sudah punya greencard (izin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat), Yohanes Surya tetap pulang ke Tanah Air dengan tujuan ingin mengembangkan ilmu fisika di Indonesia dan mengharumkan nama Indonesia melalui Olimpiade fisika. Semboyannya waktu itu adalah “Go get gold”.

Prof. Yohanes Surya adalah sosok fisikawan yang gemar membaca. Sungguh luar biasa, Yo yang dulunya anak pemilik warung kecil, hidup dalam kondisi ”kritis”, tidak pernah kehilangan mimpinya dan tetap berusaha dengan sungguh-sungguh. Dibutuhkan waktu panjang untuk berprestasi, maka mestakung pun akan terjadi. Kini Prof. Yo mampu mengharumkan bangsa di mata dunia. Mestakung yang telah teruji.

Pertajam Tujuan

Tujuan membaca bagi sebagian orang adalah untuk menyuburkan “lahan kering” pemikiran. Membaca sebagai nutrisi jiwa memberikan vitamin dan mineral bagi pemikiran sehingga ia terus “terbarukan”.

Orang yang suka membaca sering diasosiasikan sebagai “kutu buku”, asosiasi yang penting bagi kita sebagai “doa” yang tidak hanya sekadar label tetapi stempel yang menyebabkan kita memiliki konsisten untuk terus membaca (menggali ilmu).

Tak satu pun seseorang di muka bumi ini yang rajin membaca, karenanya ia miskin. Tetapi mereka yang dulu dicap ‘kutu buku’ justru adalah orang-orang yang hari ini berhasil. Berhasil karena pengetahuan yang dimilikinya.

Tengok saja mereka yang diasosiasikan rajin belajar dan membaca: B.J. Habibie dijuluki si Mr. Crack, karena menemukan postulat atau teori yang dapat memperkirakan titik rawan retakan atau cracks progression pada pesawat sampai perhitungan atomnya.

Pada tahun 1960 kala itu musibah pesawat sering terjadi karena ‘keretakan’ konstruksi yang tidak terdeteksi. Biasanya titik itu terletak pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Dengan postulat Habibie, kecelakaan tersebut bisa dihindari. Karena titik crack bisa diperkirakan maka lahirlah Faktor Habibie di mana para engineering dapat mempergunakan bahan seringan mungkin, dengan campuran logam yang lebih ringan, porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang.

Itulah Mr. Crack yang terus belajar. Beliau memiliki mimpi yang jelas (clear vision) untuk membangun industri dirgantara. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, beliau memilih jurusan teknik penerbangan dengan spesialisasi kontruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Jerman; karena teringat pesan Bung Karno tentang pentingnya dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia. Di balik kecerdasan dan keberhasilannya itu, Habibie tentu memulainya dengan jalan membaca.

Membaca haruslah bertujuan. Sama halnya ketika kita melakukan aktivitas lainnya. Tujuan inilah yang mengarahkan kita untuk melakukan ativitas membaca. Tujuan harus jelas, sejelas saat Ir. Soekarno memimpikan Indonesia merdeka; sejelas Mohammad Hatta membangun ekonomi kerakyatan melalui pilar koperasi; sejelas Ki Hadjar Dewantara memelopori pendidikan bagi kaum pribumi.

Wajah Buram Buku

Minat membaca yang rendah menyebabkan buku di rak-rak rumah, perpustakaan, dan ruang-ruang kelas menjadi buram. Ia kusam bukan hanya karena debu dan termakan rayap. Tapi lebih dalam lagi, buramnya buku akan berdampak kepada buramnya pemikiran anak bangsa, dan akhirnya menyuramkan kemajuan negeri ini.

Thomas V. Bartholin (20 Oktober 1616–4 Desember 1680), seorang ilmuwan Denmark, menyadari akan pentingnya buku untuk menyuplai energi pengetahuan baginya. Menurutnya, “Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, ilmu pengetahuan macet, filsafat lumpuh, sastra bisu, dan segalanya diselimuti kegelapan.”

Jadi tanpa buku yang dibaca dunia tidak akan terang benderang seperti hari ini. Tanpa buku, ilmu pengetahuan tidak dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Itulah mengapa “sains akan macet” jika pemikiran kita tidak berlandaskan penemuan, riset, teori, dan pengalaman para ilmuwan terdahulu.

Lalu apakah kita telah menyukai buku? Apakah kita memiliki minat yang tinggi untuk membaca?

Jika kita tanyakan kepada anak kita, sahabat, atau adik yang sedang menginjak masa-masa ABG, siapa gerangan idola, tokoh pujaan, atau role model mereka? Tidak banyak yang menyebutkan tokoh-tokoh yang mencintai buku: ilmuwan, peneliti, sastrawan, negarawan, budayawan, atau bahkan agamawan. Sebut saja Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Khalil Gibran, Soekarno, Mohammad Hatta, Gus Dur, B.J. Habibie, bahkan Quraish Shihab. Ironisnya banyak di antara mereka malah teridola pada bintang film, artis, selebriti, syukur saja jika selebriti tersebut adalah mereka yang rajin membaca dan menulis.

Kini coba tanyakan kembali pada diri sendiri, apa yang akan kita lakukan untuk mengisi waktu-waktu senggang? Membaca atau menonton? Belajar di rumah atau jalan-jalan? Membeli buku atau ganti gadget?

Yohanes Surya sangat menyukai buku. Baginya ada banyak hal yang didapat dari membaca buku. Membaca buku adalah suatu kegemaran. Membaca buku bukan karena diwajibkan, apalagi paksaan dari orangtua atau guru sekolah. Ia lebih tinggi dari segalanya, yaitu membaca karena hobi.

Jika kita mampu menempatkan peran membaca sebagai kegemaran, hobi, atau kesenangan (reading interest)—bukan sebagai beban dan kewajiban—maka membaca akan menjadi sangat fundamental dalam mengubah kegemaran tersebut menjadi bagian dari peradaban. Membaca menjadikan insan yang lebih berbudaya, santun, dan beradab: memiliki budi pekerti yang baik, seperti falsafah padi, “Semakin berisi semakin merunduk.”

Minat, hobi, atau kegemaran membaca yang dilakukan secara terus-menerus setiap saat akan menjadikan kebiasaan suka membaca (reading habits). Insan yang secara terus-menerus ingin membaca untuk menambah pengetahuan, merasa dirinya selalu haus akan ilmu pengetahuan.

Azyumardi Azra, mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah satu di antara banyak orang yang cinta membaca. Baginya buku merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Alasannya, buku tersebutlah yang berperan membentuk cara pandang dunia (wordview): cara berpikir, karakter, dan tingkah laku sehari-hari.

Ia sudah bisa membaca huruf ketika belum masuk sekolah dasar. Ia belajar membaca nama-nama bus antarkota yang melintas dan berhenti di depan rumah di pinggir jalan raya provinsi yang menghubungkan Kota Padang dengan Padangpanjang dan Bukittinggi. Hobi membacanya semakin meningkat ketika melanjutkan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), bahan bacaan yang dibaca tidak lagi buku sastra pujangga baru tetapi mulai membaca koran dan buku pengetahuan lainnya. Hobi membaca ini terus meningkat hingga ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN tahun 1976–1982. Hobi tersebut berlanjut hingga ia meneruskan studi pascasarjana di Columbia University pada tahun 1986 hingga meraih gelar MA pada tahun 1988 dan gelar Ph.D pada tahun 1992 di universitas yang sama.

Di tengah kesibukan dan keterbatasan waktu, ia membaca dan menulis di mana saja. Jika ada waktu: di bandara ketika menunggu boarding, di atas pesawat, di atas mobil, di hotel, atau di sela-sela seminar. Bagi Azyumardi, menulis adalah salah satu sarana penting menebarkan ilmu pengetahuan. Karena ilmu itu dicari dengan cara membaca dan berpikir, juga harus disebarkan untuk kehidupan dan kemajuan umat manusia.

Akhirnya kebiasaan membaca akan menciptakan karakter diri yang terus haus akan bahan bacaan (reading character) sehingga mampu mengubah peradaban, yaitu budaya masyarakat yang suka membaca (reading culture). Tanggung jawab menjadikan hobi membaca menjadi budaya baca haruslah dimulai dari rumah, dimulai dari orangtua, dimulai dari diri sendiri.

Dengan membudayanya minat baca di masyarakat, semoga kekhawatiran Taufiq Ismail pada puisi “Kupu-Kupu di dalam Buku”, sirna. Bahwa negeri ini, Indonesiaku, banyak anak-anak bangsa yang cinta akan buku, dan gemar membaca.

 

Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.”

~Ali bin Abu Thalib